Diproteksi: BuKu Fanart.
•8 September 2010 • Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.Diproteksi: Monochrome ~Kizukenakatta Devotion~
•10 Juli 2010 • Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.Diproteksi: DISCORD -A BuKu Fic-
•23 Juni 2010 • Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.Uvie Chapter 3.
•30 Maret 2010 • 4 KomentarUvie and Takuya Chapter 3
~Rokujuuchou no baku wa ninau sube- ~
“Ah alarm sialan..” Aku terbangun dari tidur gara-gara alarm HP ku. Oh iya, aku harus mandi. Hari ini kuliah, tapi.. aku hanya tidur dua jam! Gara-gara si Takuya ngotot mulu pengen diajarin bahasa Indonesia mpe jam 3 subuh. Tuh orang gila banget. Tapi yah, hasil setelah dia belajar mungkin sudah bisa dikatakan cukup bagus. Gak rugi deh. Selain memperkenalkan bahasa negri ke orang asing, aku bisa berduaan bareng Takuya semaleman!!
”Hei sampai kapan kamu tidur terus?”
Seseorang memecah perhatianku. Eh tapi siapa orang itu…
”Nggg… Ngantuk! Udah sono per—”
Tau-tau selimut tebal berwarna biru ku itu tertarik dan jatuh di lantai. Udara dingin pagi langsung menyerang tubuhku, aku pun menggigil pelan.
”Bangun. Bukannya kemarin kamu berkata bahwa besok ada kuliah?”
Aku membuka mataku lalu bangkit duduk di tempat. Aku menoleh kearah suara itu datang dan aku terbelalak.
Kulihat Takuya tersenyum.
Aku mengucek-ngucek mataku lalu kembali melihat sosok yang sedang berdiri disebelah tempat tidurku. Aku terlonjak sampai jatuh dari tempat tidurku di lain sisi dari tempat Takuya berdiri. Berarti orang yang tadi ngomong memakai bahasa Indonesia dengan fasih itu..Takuya?!
“Ta-Takuya-san! Naze koko ni? Kore wa watashi no heya na no! Tidak sopan!” bentakku, meski wajahku merona.
”So-pan? Nani sore? Ah kore mite. Aku dipinjami baju!” Takuya terlihat tersenyum kembali. Dia memandangi baju yang ia kenakan itu.
”Hah?” aku belum bisa melihat dengan jelas, penglihatanku masih buram. Aku pun mengucek-ngucek mataku kembali lalu membuka mataku lebih lebar.
Aku pun menganga saat melihat dengan jelas apa yang kulihat didepanku itu. Makhluk bernama Takuya itu, dengan balutan kemeja berkain katun merah tua dengan corak buluta-bulat minimalis di sudut kemeja yang ia kenakan itu. Celana jeans hitam yang memperlihatkan bentuk kakinya membuat dia terlihat lebih tinggi dari aslinya.
Elegan juga. Itulah kesan pertamaku.
”Nee! Dou?? Hen na no ka? Menurutku baju ini lah yang paling bagus.” Takuya kembali tersenyum senang. Aku pun juga ikut tersenyum, penampilan yang sangat beda dari yang biasanya ada di foto-foto. Dia tampak leih sederhana, namun masih mengeluarkan kesan glamour. Mungkin karena 2 kalung yang bertengger di lehernya itu…
”Eh bagus.. Sangat cocok pada Takuya-san!”
“Darou!” Takuya tertawa senang lalu segera keluar dari kamarku.
”Haha bisa-bisa aku beneran suka ama dia..” Ucapku lirih.
.
Jam 8 pagi, dalam perjalanan menuju gedung kuliah.
”Jadi, kenapa kamu bisa disini?”
”Ahahaha! Aku ingin ikut saja. Sebagai fans UVERworld, Uvie-san pasti tahu kalau—”
”Takuya-san belum kuliah.” jawabku tegas sambil melirik kearahnya. Tak lupa seringai kupasang di wajahku juga. Kira-kira gimana ya reaksinya?
”Sou!” jawab Takuya terlihat bangga. Gak kuliah kok bangga sih?! Yah, sekarang dia ikut di mobil Visto kecilku ini untuk berangkat kuliah. Ya tapi aku juga sedikit senang, gak pisah ama dia. Khekhekhe…
”Boleh kunyalakan?” tiba-tiba Takuya bersuara. Ia menunjuk CD Player yang mati itu. Kalau gak salah, didalamnya masih ada CD nya deh. Aku pun mengangguk lalu Takuya pun menekan tombol ‘ON’ pada CD Player itu.
`LOADING`
”Hayaku…” Takuya terus memandangi CD Player itu dengan wajah tidak sabar. Karena terlalu lama, dia pun mencari kegiatan lain. Takuya membuka laci dashboard dan…
”Dame!!” Teriakku.
GRATAK GRATAK GRATAK…
”Kore wa…?” Takuya menganga melihat isi laci dashboard mobilku Aku nyengir, sebutir peluh jatuh dari leherku. Semua CD UVERworld berserakan di lantai mobil, Takuya terdiam melihatnya.
“Ahaha.. Sore wa.. Takuya-san mo shiteiru…” aku berusaha untuk memecah suasana aneh ini. Kulihat Takuya memungut CD Bugright, Kanashimi wa Kitto, dan GO-ON, sisanya dibiarkan. Tiba-tiba…
`Ai ga ai wa omosugiru tte rikai wa kobami..`
Takuya kembali terdiam. Keadaan menjadi terasa lebih aneh. Konsentrasi menyetirku hampir saja buyar.
”Nanka, Uvie-san ga UVERworld suki desu ne?” Takuya memandangi CD Player yang terus menyanyi itu.
“Daisuki desu!” jawabku gugup namun terasa sangat senang dan berbunga-bunga.
“Arigatou.. Hontou ni arigatou!” tiba-tiba Takuya mengeluarkan kata-kata itu penuh semangat, badannya setengah menunduk, suaranya agak bergetar.
”E? Doushite? Kok tiba-tiba sekali?”
”Terimakasih! Terimakasih sudah mendukung UVERworld!”
”Ah.. I-Iya. Douitashimashite!” jawabku sembil tersenyum. Sekarang Takuya lebih terlihat ‘cerah’ daripada sebelumnya. Dia mulai merapikan CD-CD yang berserakan itu lalu tersenyum sendiri saat memungut CD Koishikute yang kubeli versi limited editionnya.
”Nanka.. Aku lebih cocok dengan gaya rambut ini.” Takuya memandangi gambar dirinya di Cover CD itu. (sungguh, cuman CD UVERworld itu saja yang bisa kubeli edisi limited-nya)
“Heh? Iya iya!” aku setuju dengan Takuya. Soalnya gaya rambutnya sekarang terlihat kurang alami… Ada tambahan warna pirangnya itu membuat Takuya jadi keliatan kayak udah tua! Bagusan gaya rambutnya kayak di Koishikute ato enggak di Hakanaku.
”Hontou? Hmm…” Takuya memandangi cover CD itu lagi dan keadaan kembali aneh lagi.
“Ah! Sudah sampai!” Aku membelokkan mobilki ke parkiran. Kulihat disana sudah ada motor sprt mili Raven. Senyuman kecil pun terukir di wajahku.
”Apakah aku boleh masuk?” tanya Takuya terlihat excited.
”Eh? Boleh.” jawabku pendek. Lalu Takuya pun segera keluar dari mobil dan melakukan stretching bebas. Sedangkan aku beres-beres barang-barang yang mau kubawa yang berserakan di jok belakang.
“Haduuh.. Pengen cepet-cepet lulus…” gerutuku sambil membereskan buku-buku itu.
“Uvie-san.. Aitsu wa dare?” tiba-tiba Takuya melongok masuk ke dalam mobil sambil menunjuk seseorang di belakangnya. Aku pun mendongak keluar.
“Raven!” Aku buru-buru mengambil buku-buku itu dan segera menutup pintu mobil. Kusuruh Takuya juga menutup pintu yang ia buka tadi, lalu ku kunci. Namun aneh.. Raven tidak meresponku. Dia tetap diam.
”Ano.. Daijobu ka na?” Takuya mendekati Raven, sedangkan Raven makin mengernyitkan alisnya. Sekarang aku mengerti.
”Raven…” aku berjalan kearahnya dan menepuk pundak Raven. Raven tercekat.
”Eh.. A-Apa?” Raven menoleh kearah ku.
”Uvie-san, kono hito daijobu ka?” Takuya memandang Raven dengan wajah khawatir.
“Ii. Sinpai nai you. Aitsu wa tada shookku desu kara.” jawabku sambil nyengir.
”Uvie, kamu…” Raven memandangku.
”Nani?” jawabku sambill tersenyum ramah, tersenyum bak anak suci yang masih polos.
“Dia…” Raven melirik sosok yang sedang kebingungan.
“Kenalan aja” jawabku sambil tersenyum lagi.
”Tapi—”
”Kenalan!” suruhku dengan tampang senyum-senyum psycho. Raven pun terpaksa berbalik badan dan berjalan menghampiri Takuya.
”Raven Handoko, senang berkenalan denganmu”
“Shi-Shimizu Takuya desu. Hajimemashite.”
Raven kembali membatu, dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Takuya. Raven pun kembali menolehkan kepalanya kearahku. Lalu Raven memelukku tiba-tiba.
”Gak akan gue serahin Uvie ke tangan lo!” teriak Raven kearah Takuya. Sedangkan Takuya memasang tampang bingung.
”Aa.. Maksud Raven-san apa?” tanya Takuya bingung.
”Saya, tidak akan, menyerahkan Uvie, ke tangan mu! Gak akan gak akan gak akan!” Pelukan Raven makin erat. Takuya pun mengangguk mengerti.
”Eng.. Saya tidak bisa menjaminnya.” jawab Takuya sambil tersenyum. Entah itu apa menyeringai atau tersenyum jahil, aku tak tahu. Tapi jujur, aku sedikit kaget plus senang mengetahui jawaban Takuya tadi.
”HEI!!!” Raven kembali berseru kearah Takuya dan pelukannya padaku makin erat.
”Eh.. Iya iya.. Joudan dake, joudan. Sinpai nai yo” jawab Takuya dengan gelak tawa.
”Raven.. Sesak…” rintihku di peluknya.
”Eh iya! Sori!!” Raven melepas pelukkannya. Aku hanya geleng-geleng sambil membenarkan kemejaku.
”Oke oke. Semua, mau makan di kantin? Aku belum sarapan. Ayo!” ajakku sambil menarik tangan Raven dan menggandengnya.
”Uvie-san.. Chotto, hazukasi kedo… Raven ga… anata no koibito na no?” tanya Takuya sambil menjejeri langkahku. Sekarang aku berjalan diantara dua lelaku ganteng! Kyaa!! (Heida : Dasar cewek ganjen… ==”)
”Iya!! Emang kenapa?!” semprot Raven dengan nada tinggi, genggamannya pada tanganku terasa makin erat. Aa~ Serunya punya cowok tsundere…
”Eh? Hanya bertanya.” jawab Takuya dengan tenang.
“Raven. Jangan keras-keras gitu dong sama dia! Kan kasian..” kataku pada Raven sambil berbisik.
”Lagian kenapa dia bisa ada disini?! Tanpa ada kabar apapun dari OS nya kalau mau datang ke Indonesia?!”
”Yaa.. Itulah yang ingin Uvie sampein ke kamu!”
”Sekarang aja, mumpung ada orangnnya. Lagian kamu udah tau rincinya?” Raven melirik-lirik Takuya yang daritadi berjalan mengikuti kita dengan aura… merana?!
”Eh? Iya juga sih.. Okelah kita bahas aha di kantin. Ini masih pagi juga, kuliah kita masih jam 11 nanti.”
”Lho terus? Kalo kuliahnya masi lama, kamu ngapain dateng pagi-pagi?!” Raven menatapku curiga.
”Sebenarnya aku ada piket di lab fotografi, cuman yah.. Biarin aja lah. Kan ada Riri yang gabung di klub itu. Hehe.. Trus kamu juga ngapain disini pagi-pagi?!” Semprotku tiba-tiba, baru sadar kalau dia juga datang pagi-pagi.
”Wah wah .. Sahabat sendiri diperalat.. Oke, aku kesini awalnya pengen ngadem di perpus sambil bikin susunan skripsi tapi yah..” Raven menunduk.
”Aku?” aku tersenyum sambil menunjuk mukaku dengan telunjuk, aku melihat wajah Raven memera. Lucunyaa.. Dasar tsundere..
Raven pun mengangguk. Aku tersenyum. Lalu aku, Raven, dan Takuya sampai jugadi depan ruang perpusatakaan.
”Uvie, emang boleh bawa orang dari luar kesini?!” Raven menatap Takuya dengan tatapan… ingin mencekik?
”Boleh lah!” aku menepuk punggung Raven sekaligus mendorongnya. Tiba-tiba…
”Hoi Uvie!!”
Aku menoleh kearah darimana suara itu datang. Dan aku melihat sosok gadis berambut panjang bergelombang, memakai baju terusan berwarna biru tua bercorak batik jawa.
”Riri!!” teriakku seraya menjauh. Sesaat penjaga perpus menyuruhku untuk tetap diam.
”Heh! Lo gitu ya ama gue?! Mau bolos piket luh?!” Riri menyemprotku dan mendekatiku.
”Ehehe maap. Sekali-sekali bolos gak apa-apa kan?” aku tersenyum takut. Riri kalo marah nyeremin mukanya.
”Haah.. udah terlanjur, semua udah aku rapikan. Oke, gue mau ke kantin, haus. Ini gara-gara lo tuh nyuruh gue beres-beres sendiri.” Riri menepuk pundakku lalu terdiam sesaat. Riri berteriak.
“UVIE!! DIA TAKUYA?!!” Riri histeris sambil menunjuk sosok Takuya yang berada di belakangku.
”Eh?” jawabku dan Takuya bersamaan. Kok tiba-tiba hatku berbunag-bunga ya? Heheh… Uvie! Gue serius! Dia mirip banget, gilak! Sama persis kayak Takuya!” Riri mengangkat kerah kemeja ku.
“Saya..memang Takuya… Shimizu Takuya.” Takuya jadi kelihatan enggan.
“Boong.. Uvie, lo gak mugnkin kan nyulik dia kesini..?!” Riri makin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memandangnya dengan sangat ketakutan.
”Gilak luh! Gue aja kagak modal pergi ke Jepang! Dia yang nyasar kesini tau gak! Ukh…” leherku mulai terasa tercekik.
”Hei sinting… Mending kita bicarakan saja.. Ampe elu bikin pacar gue pingsan…” Raven menepuk pundak Riri dan mencengkranya erat tiada ampun, Riri mulai merasa kalau tulang selangkanya akan remuk.
“Haah… Mata ka yo? Mou dame da…” Takuya geleng-geleng lalu keluar dari ruang perspustakaan. Mampuslah Takuya marah! Ah, tapi kok mukanya merona ya? Aku melirik Riri dan baru kusadari ada apa yang terjadi. Seringai psycho terukir di wajahku. Ah meski aku merasa aku agak sakit hati mengetahui hal ini…
”Takuya-san, chotto—” aku menarik tangan Riri dan memaksanya untuk ikut berlari denganku. Kulihat Takuya belum sejauh yang kukira.
”Woi Uvie! Lo mau ngapain?!”
”Udah ikut gue aja!” aku tetap menarik tangan Riri lebih kencang. Dia tampak tergopoh-gopoh mengikuti langkah ku karena sepatu berhak tingginya itu. Namun aku tak peduli. Ini demi kebahagiaan Takuya, mungkin…
”Takuya-san! Chotto matte kudasai!!” panggilku lagi. Takuya memalingkan wajahnya kearah aku dan Riri. Lagi-lagi mukanya merona. Tuhkan bener!!
”Uvie!!” Riri menunjok mukaku.
”Ittee-tte-tte-tte… Udah lo diem aja!!” Bentakku sambil merintih sakit lalu menarik tangan Riri seraya mendekati tempat dimana Takuya berdiri.
”Nani ka?” tanya Takuya sok sinis. Wah kalo dia marah, mampuslah aku…
”Emm.. Aitsu wa, ore no tomodachi tte… Riri to omoishimasu.” jelasku pada Takuya. Sedangkan Riri sedang gemetar di belakangku.
”Sou. Nara doushite? Ore ni kankei nai.” Takuya memandangku dengan tatapan SANGAT sinis sekarang ditambah dengan bada bicaranya yang SANGAT sinis juga.
”Aru no yo!!” jawabku lantang.
”Ha? Sou ka? Sore nara oshiete ageyou!” Bentak Takuya.
“Ara ara.. Sono kao, retto kawaru.. Doushiteee??” kataku sambil tersenyum jahil.
”Aa!! Mite janai!!” Takuya membalikan badannya. Badannya bergetar, kedua tangannya saling mencengekeram.
“Uvie.. Kayaknya dia ketakutan..” ucap Riri lirih di belakangku.
“Um..” aku menggeleng. “Dia cuman nervous” lanjutku.
”Nervous kenapa?”
”Karena..kamu.”
”NANIIIIII???!!!” Riri histeris lagi. Sekarang aku hampir ditendangnya. Untung aku udah les taekwondo, jadi bisa nahan tendangannya itu.
”Iya beneran…”
”USO!” bantah Riri. Sekarang ia mulai menghujaniku dengan tendangan.
”USO JANAI! Takuya-san!! Kochi mite kudasai!!” teriakku kearah Takuya yang tadi berusaha membelakangi aku dan Riri.
”Iie! Zettai iie!” teriak Takuya juga.
”Aa.. Zamen datta nee.. Sore nara kore ageru kara!!”. Dengan cepat aku mengambil gerakan memutar, dan menahan tendangan Riri dengan tangan kiri setelah itu menyentaknya dengan tangan kanan dan kembali memutar dan mendapati diriku di belakang Riri lalu mendorongnya sekuat tenaga kearah Takuya.
”Hyaaaa!!!’ teriak Riri mengetahui dirinya kehilangan keseimbangan dan mau jatuh. Takuya yang dapat merasakan sebuah ’benda’ begerak mendatanginya, segera memutar badannya dan hempasan tubuh Riri ke tubuh Takuya membuat Takuya terjatuh di lantai.
”Nani o surun’ desu ka!?” bentak Takuya kepadaku. Oh, aku kira aku takut padamu? Aku dan kamu masih sama-sama manusia, darou?
”Betsuni.” jawabku pendek.
”Lalu apa?!” Riri buru-buru bangkit saat menyadari ia telah membebani Takuya.
”Betsuni tte itten darou.” jawabku lagi.
”Sore nara nan’da?!” bentak Takuya.
”Omae! Mada kizukenakatta nda yo ne? Takuya-san, boleh aku bertanya beberapa hal padamu?”
“Hai.” Jawab Takuya sinis. Dia memalingkan kepalanya kekanan, kearah dimana Riri berdiri. Buru-buru Takuya memalingkan wajahnya lagi kearah kiri.
”Hora mite. Kamu selalu memalingkan wajahmu setiap kali melihat Riri, darou? Apakah hal itu tidak ada apa-apa dengan mu? Dan sepertinya aku sudah tau permasalahannya..”
”Nan’no hanashi ga?! Wakane yo!” bentak Takuya.
”Betsuni. Takuya-san, apa yang kamu lihat saat melihat sosok Riri?” tanyaku dengan ekspresi datar.
”Nanimo..” jawab Takuya lirih. Sudah kelitan kalau Takuya menyembunyikan sesuatu, dan sayangnya aku sudah mengetahuinya.
”Aa.. Souka?”
”Jamau!” bentak Takuya
”Hee… KOUka…” aku menyeringai.
”Kalau sudah mengerti, kenapa tidak pergi saja?!”
”Hee.. KOUka…” aku kembali menekankan kata ’KOU’ nya.
”OMAE!!!” Takuya langsung menarik kerahku, aku kembali merasa tercekik, tapi aku akan berusaha supaya tetap bisa berbicara. Ngomong-ngomong, muka marahnya keren juga.. (Heida : Sumpah! LO BISA SERIUS GAK SIH, UVIE?!)
”Hoaa!!! Lo!! Lo!! Apa yang lo lakuin ama Uvie!!??” bentak Raen dari kejauhan. Takuya pun melepaskan kerahku.
”Uvie! Ayo pergi!”
”Nggak!”
”Uvie!!” Raven sekarang menarik tanganku.
”KUBILANG ENGGAK YA ENGGAK!!” lalu kusentak tengkuknya, Raven pun pingsan. Anehnya Riri bisa aja tepuk tangan melihat apa yang kulakukan ama pacar sendiri.
”Haha.. Pacar sendiri kok dilukai? Kau memang benar-benar keji.” Ucap Takuya.
“Keji? Dari mana kau dapat kata itu?” tanyaku heran.
”Betsuni.” jawab Takuya.
”Kembali ke topik. Supaya cepat, apa yang kau lihat saat kau melihat Riri adalah…”
”DAMARE!!” bentak Takuya seraya jatuh berlutut. Ia memegangi kepalanya, seolah seperti orang depresi.
”Kou Shibasaki da.”
================================
Wahahahah! Maap maap kalo ada nama tak berkenan di hati para fans Takuya.. Sungguh hamba minta maap *ditabok*
Hwahahaha! Gimana? Penasaran gak?? xD
Mohon ripiunya ya!!
Uvie Chapter 2.
•30 Maret 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarFlashback mode : ON
”Takuya-san baka”
Flashback mode : OFF
”Tch.”
”Hah?” Aku menatapnya sinis sambil menuju ke minimarket tadi.
”Nanda?”
”Nani mo nai” Tukasku.
”You didn’t respect me.” Ujar Takuya lagi.
“Owh? Gomen then. Because you are human too, aren’t you?” Aku tersenyum licik. Anehnya, Takuya malah tersenyum. Tersenyum… senang? Ah bayanganku aja.
“Hai, ningen desu.” Balas Takuya dengan senyuman juga.
“Okay.” Balas ku lagi.
Aku pun kembali masuk ke minimarket yang aku datangi sebelum bertemu dengan artis kesasar ini. Mbak-mbak kasir itu tersenyum padaku lalu biji matanya seolah mengikuti kemanapun aku pergi di dalam minimarket ini. Aku pun barus sadar mengapa matanya terus membuntutiku…
Takuya.
Yap. Cowok ini. Gak salah lagi klo mbak-mbak kasir ini selalu ngliatin kemanapun aku pergi. KARENA TAKUYA SELALU BERADA DI BELAKANGKU, MENGIKUTIKU. Sesekali kulirik mbak-mbak kasir itu, terlihat semburat merah di pipinya. Iya pasti naksir ama Takuya.
OH IYA DONG TAKUYA KAN KEREN BANGET !!! (Heida : Setuju ama Uvie !!)
Lalu aku pun mengambil sebotol Aqua dari kulkas pendingin. Gak mau peduliin tatapan gak guna mbak-mbak kasir itu lagi.
”Pocari sweat?” Takuya memandangi kemasan botol pocari sweat yang ada di kulkas pendingin lainnya. Dia terlihat sangat menginginkannya. Ya apa boleh buat, dia yang haus, dia yang menentukan pilihannya untuk menghilangkan dahaganya. Lagipula duitku gak sebanding ama harga pocari sweat. Yah, songong dikit kan gapapa, apalagi buat artis kesayangan…
”Kore?” Aku mengambil kemasan pocari sweat yang ada di dalam kulkas pendingin.
”Ii?” Ia memandangku gak yakin.
“Ii.” Jawabku pendek meyakinkan dia. Apapun untuk kebaikan dia! Eh, tapi katanya Takuya lebih suka air putih?
”But, you have said that you prefer mineral water to others, haven’t you?” Aku mengernyitkan alisku lagi.
“But pocari sweat is more better to… err…” Takuya berusaha menyusun kata-katanya yang pronounciation nya belepotan.
”Aa. Ii ii… Kore. O kane mo.” Aku memberi botol pocari sweat itu ke tangan Takuya beserta sejumlah uang untuk membayar minuman itu. Takuya pun langsung berjalan ke arah kasir. Aku yakin, pasti mbak-mbak kasir itu kembali kesenengan melihat sosok asia yang begitu ganteng memasuki tokonya.
“Ko-kore..” Takuya memberikan uang yang kuberikan. Dia terlihat gugup. Yaiyalah, Takuya ini lagi di negri asing! Aku pun cekikikan sendiri di belakangnya. Mbak-mbak kasir itu terus tersenyum sambil memandangi wajah Takuya. Takuya pun keluar dari minimarket dan aku melenggang sombong di depannya.
Hahahaha! Apa kau liat-liat? Iri padaku bisa jalan bareng ama cowok seganteng dia? Wajah mbak-mbak kasir itu tetap saja merona.
”Saa, ikou.” Aku pun mendahului langkah Takuya dan menuju pulang ke kontrakan.
”Hai.” Takuya mengangguk dan menyamai langkahku.
Sesampainya di depan pintu kontrakanku…
”Bi! Bibi!” Panggilku dari luar. Aku yakin dia pasti marah-marah gara-gara aku pulang terlalu larut dan pasti mengganggu tidurnya.
Tak ada jawaban….
”Nee kotae wo nai yo~” Takuya menyenandungkan salah satu lagu dari band kebanggaannya itu sambil tersenyum menghadap pintu di depannya itu.
”Kyou mo keshiki mo…” Lanjutku sambil tertawa kecil.
Tak ada jawaban juga dari balik pintu sana…
”Zero no Kotae” Ujar Takuya terkekeh. Aku pun ikut terkekeh. Setelah itu aku dan Takuya malah menyanyikan lagu itu. Aku cukup senang, senang sekali lebih tepatnya. Impianku yang dulunya ’INGIN PERGI NONTON LIVE-NYA UVERworld!’ sekarang udah tiada. Udah tercapai. Malah lebih dari itu.
Sekitar 15 menit aku dan Takuya berdiri di depan pintu sambil nyanyi-nyanyi, tapi sama sekali gak ada jawaban dari dalam rumah. Padahal aku dan Takuya sempat tertawa ngakak. Apa aku coba saja buka pintunya ya?
CKLEK…
Pintu terbuka…
Aku tersenyum kecut. SIALAN HARUSNYA DARITADI AKU BISA MASUK! Terdengar dari telinga tajamku ini, aku mendengar Takuya cekikikan melihat aku dongkol.
”Sip. Brarti aku gak ada halangan buat ngebawa masuk Takuya.” gumamku. Sedangkan Takuya tetap mengikutiku dari belakang. Aku pun mengenap-endap mendekati kamarku. Tapi baru saja mau menyentuh handle pintu…
”Dari mana saja kamu non?” Sosok wanita setengah baya muncul dari balik lemari yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang tengah. Ia tersenyum. Tersenyum psycho. MAMPUS AKU. APALAGI AKU KETAWAN BAWA-BAWA COWOK BEGINI!
”Eeh.. Iya bi.. Tadi barusan pulang beli makanan—”
”Hoo… TERUS KENAPA BAWA-BAWA COWOK KESINI ?! HEH! SIAPA KAU?!” Bentak bibi itu padaku dan Takuya. Takuya mundur mendekatiku, mukanya sedikit takut. Bibi pemilik rumah itu tiba-tiba mendekati Takuya dan mendekati Takuya. Memandanginya dengan teliti.
”Err.. Gini lho bi.. Aku—” Aku berusaha menjelaskan pada bibi. Jangan sampai Takuya terluka gara-gara ibu-ibu keras kepala begini!
”Oke, karena sepertinya aku menemukan sesuatu yang beda dari mukanya, aku memperbolehkan kau untuk menjelaskan semuanya secara logis. Dia ini orang asing kan?” ujar Bibi sambil menunjuk Takuya. Takuya terperanjat saat tau dirinya ditunjuk lagi. Wajahnya kebingungan.
”Iya bi, orang asing. Oke bi. Aku tahu ini gak masuk akal, tapi—”
”Akh!! Bibi minta kan masuk akal! LOGIS! Gak bisa bahasa indonesia apa kamu ini?!” Bentak si bibi rese ini. Terkadang aku ingin menonjok mulut rewelnya sampai bonyok supaya gak usah nge-bacot terus pas orang lagi ngomong. Ngeselin.
”Bi! Dengerin Uvie dulu! Uvie jelaskan!!” Bentakku balik. Bibi pun terdiam. Takuya menepuk pelan tangannya (baca : Applause). Bibi memelototinya lalu kembali memandangku lekat-lekat.
Setelah aku menjelaskan semuanya…
”Oh… TAPI DIA BAGAIMANA BISA DISINI?! Tanpa paspor lagi?! Bisa-bisa dia ditangkap!” Bibi malah berbalik khawatir sekarang. Aneh, biasanya dia gak pernah menghiraukan keadaan apapun. Tapi kali ini beda. Apa karena Takuya lagi? Karena kegantengan Takuya? Ah rata-rata orang asia emang ganteng-ganteng kok!
”Ya Uvie tahu itu. Uvie sendiri juga bingung banget! Tapi itu bisa Uvie pikirkan. Bibi gak usah khawatir begitu. Sekarang intinya, bolehkah ia tinggal di kamarku untuk sementara?” Aku mengatupkan tanganku, memohon pada bibi dengan sangat supaya mengijinkan. Sesekali bibi menoleh ke arah Takuya.
Bibi mengangguk.
”BENARKAH?! BOLEH??! HOREEE!!!” Aku melonjak riang. Spontan aku langsung memeluk bibi. Takuya menggaruk-garuk kepalanya, tanda ia bingung. Bingung karena gak ngerti apa yang aku dan bibi bicarakan, mungkin. Bibi yang kupeluk pun berusaha mendorongku supaya aku melepaskan pelukanku dari dia.
“Apaan sih kamu pake meluk-meluk bibi?!” Bibi menyilangkan tangannya di depan dadanya, mukanya memerah. Haha! Dasar tsundere tua!
”Ano.. Gomenasai. Anata-gata no koto wakaru dekinai… Ah, i mean. I can’t understand what are you guys talking about…” Takuya memandang aku dan bibi secara bergantian. Aku hanya tersenyum dan langsung berseru di depannya.
“Uchi ga moraemashita!!” kataku kesenangan. Air muka Takuya yang tadinya kebingungan menjadi cerah. Matanya memancarkan semangat. Uwaaa… Aku memang sangat suka dengan tatapan matanya. Semuanya aku suka!! (Heida : Tul itu Uvie!)
”Souka..” Takuya mengangguk-angguk.
”Eh Uvie. Rasanya bibi masih punya kamar kosong. Tapi isi kamar itu cuma ada sofa aja. Masa kamu mau sekamar ama dia?! Jangan-jangan…” Bibi mulai bergidik memandangku. ENGGAK!! AKU GAK MUNGKIN GITU-GITUAN AMA DIA!! AKU KAN UDAH PUNYA RAVEN! Meski aku tau aku AMAT SANGAT ngefans ama dia, ya setidaknya ku masih punya akal sehat dan harga diri sebagai fans tauk!
”Bi! Bibi mikir apa coba?! Yaudah klo bibi mau nyediain ruang kosong, tapi kan pasti harus bayar! Uvie kan gak punya duit banyak, pikir dong bi!” aku membentak-bentak bibi. Yah, gak sopan sih, ampe Takuya sendiri yang ngeliat aku mungkin berpikiran aku gadis gak bener. Tapi aku kesel banget sih!
“Heh! Jangan bersikap gak sopan kamu sama bibi! Bibi bisa ngeluarin kamu dari sini lho!” Bibi sekarang melototin aku balik.
”Akh! Gamau! Tapi, pokoknya Takuya harus di kamarku! Soalnya aku gak punya duit lagi buat nyewa kamar bibi! Haduuuh…” Aku menghela napas. Takuya sempat menoleh kearahku saat namanya disebut olehku barusan.
”Aa.. Futari tara… Yamette kudasai…” Takuya melihat kami berdua dengan wajah lesu. Takuya menopang kepalanya dengan pungg tangannya. Astaga! Aku lupa kalau kepalanya lagi terluka! Aku langsung kedapur mengambil sebuah kain bersih berwarna putih, kuberi air dingin, lalu kuberi klorofil (yang khasiatnya bisa menyembuhkan luka dengan alami dan cepat) lalu kububuhkan ke bagian pelipis Takuya yang luka tadi.
”Emm… Kore de ii?” aku memandangnya khawatir. Saking khawatirnya aku baru menyadari wajahku terlalu dekat dengan wajahnya. Uwaaa~ matanya yang sinis itu menatapku! Aku jadi salah tingkah dan langsung menjauhkan wajahku.
”E- Ore wa daijobu kara.. Sinpai nai yo” Takuya memegangi lukanya itu yang sudah kububuhi dengan klorofil. Alhasil, bagian yang tadi kuobati menjadi terlihat agak kehijau-hijauan. Aku mau ketawa sih, tapi nanti saja. Situasi lagi tegang, menurutku.
”Heh Uvie! Sampai kapan kamu mau mesra-mesraan ama pacar barumu itu?!” bibi menunjuk sosok Takuya yang sedang mengamati jari-jari tangannya yang terkena cairan klorofil itu saat ia meraba-raba lukanya. Wajahku langsung memerah. Aku memandang Takuya sejenak. Kalau orang ini pacarku, gimana ya reaksi temen-temen? Akh! Ngaco! Gak mungkin! Dia kan artis! Gak mungkin orang awam, apalagi beda negara bisa disuka ama artis nge-tp begini? Yah.. Setidaknya pikiran ini mengingatkanku pada Kou Shibasaki yang sempat pacaran dengannya.
”Bibi! Dia bukan pacar Uvie! Uvie sudah punya Raven!” aku menyanggahnya dengan wajah yang sudah mirip warna kepiting rebus.
“Ah, bibi lagi gak mau bahas itu. Sekarang bibi punya usul.” Bibi menarik tanganku dan menjejeriku di depannya.
“Apaan sih bi?”
“Bibi kasih dia ruangan kosong itu, tapi dia harus mau bersih-bersih rumah ini. Kalau mau, jadi penjaga warung ibu di depan teras rumah. Setuju?”
”HAH??!!” aku terperanjat. Bisa-bisanya dia begitu tega ama artis setenar ini! Kan kasian dia! Tapi, itung-itung hal ini juga bisa menjadi latihan Takuya saat ia sudah mempunyai keluarga. Ukh, gak rela dia punya keluarga…
”Yah, itu syarat bibi. Kalau dia terus melakukan hal yang bibi bilang, dia boleh numpang disini sampai kapanpun.” bibi menyeringai halus.
”Tapi bi—”
Bibi menggelengkan kepalanya dan menunjuk kearah sosok cowok berambut coklat muda itu.
”Beritahu dia soal perjanjian ini. Kalau dia mau dapat tempat tinggal…”. Lalu bibi duduk di sofa di depan sofa yang diduduki Takuya. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan berjalan lagi mendekati Takuya duduk.
”Err.. Takuya-san..” sapaku ragu. Pikiranku ruwet.
”Eh, nani?” jawab Takuya dengan suara khasnya yang memang lembut itu.
”You can stay here, free.” Kataku sedikit ragu. Kulirik bibi, dia tersenyum menyeringai.
”Hontou?!” Takuya berteriak kegirangan setelah aku bicara demikian.
”Demo!” sela ku.
”Eh? Nani ka…?” Takuya menatapku bingung lagi.
”You must clean up this house or you must be a guard man at my house owner’s store. That’s my house owner condition to you if you want to live here.” Jawabku dengan nada sedikit bergetar. Pasti dia tidak setuju dengan hal ini, dan dia pasti lebih memilih untuk pergi dari sini dengan cara mengamen atau bagaimana lah! Lanjutku, “Are you daring to—“
“Ii.”
“Ha?” aku melongo.
“Ii. I’ll do it. Just do it. Just break the limit, yeah…” Takuya senyum-senyum sendiri.
“Again…” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Lagi-lagi dia menyebut salah satu judul lagi dari band kebanggaannya itu. Tidak bisa dihindari lagi, sebagian besar lagu yang dia biat bereferensi dari kehidupan sederhana yang kadang aku tak menyadari sebagai orang awam. Berarti sebagai artis, dia juga cukup sederhana. Takuya hebat juga.
”Jadi? Dia setuju dengan syarat bibi tadi? Lagian, apa dia mau tinggal di ruangan yang tanpa perabot itu?” tanya bibi heran sambil memandang Takuya yang kembali asik dengan jarinya yang terdapat bercak-bercak hijaunya, seolah dia belum pernah melihatnya. Kocak juga.
”Mungkin. Dan semoga aja betah…” jawabku disambung dengan hela nafas.
“Sekarang, dimana baju-baju yang dia bawa?” Pertanyaan bibi membuatku terhenyak sesaat. Takuya kan gak bawa baju ganti! Masa’ pake baju itu terus sih?! Duh… Masa aku harus membelikannya baju? Gak mungkin, duitku terbatas. Pengen sih ngasih sesuatu ke artis kesayangnku ini, cuman budget gak mendukung begini…
”Waduh…” jawabku pendek.
”Ah bibi sudah mengira dari awal. Yaudah, tenang aja. Bibi punya banyak hem milik anak laki-laki ibu yang masih disini. Gak apa-apa kan? Lagian kayaknya cukup..” jawab bibi sambil memandangi postur tubuh Takuya yang termasuk ideal itu.
‘Tumben bibi peduli..” sahutku dengan cengiran. Sepertinya bibi mulai bersimpati ama Takuya.
“Yaa~ dia kan orang asing… Jadi kita sebagai orang Indonesia yang terkenal ramah, kita ha—”
“Halaah~ bilang aja bibi terpesona terus simpati deh ama dia!” potongku dengan cengiran yang lebih lebar. Bibi pun menjadi salah tingkah. Dasar, ternyata juga suka toh… Aku kira simpati doang. Ah dasar tua-tua ganjen, bisa kepincut ama begianian (Baca : Takuya)
“Ah! Apa ku mau bibi suruh bayar kontrakan itu?!” balas bibi.
”Enggak mau! Bulan kemarin aja belum, gimana mau ditambahin kontrakan baru, mati deh Uvie!” seru ku sampai Takuya sempat menoleh kearah aku dan bibi.
”Makanya, jangan bilang macam-macam kamu sama bibi.” Jawab bibi dengan bibir yang terukir indah senyuman jahil dna penuh kemenangan.”
“Oya bi… Mau tau tentang sesuatu yang membanggakan?” bisikku kebibi sambil melirik sosok Takuya yang sekarang asik dengan rambutnya.
“Apa?” tanya bibi penasaran dan langsung mendekatkan telinganya ke dekat wajahku.
”Ini mungkin bisa mengangkat nama kontrakanmu dan juga nama mu..”
”Iya iya! Apaan sih, Vie?” sahut bibi gak sabar.
“Dia tuh artis nge-top dari Jepang.”
“YANG BENER?!” histeris bibi gak percaya. Takuya langsung menoleh kearahku dan bibi lalu melanjutkan kesenangannya itu dengan cuek. Aku pun langsung mengambil SC single UVERworld yang kubeli online dan menunjukan sosok Takuya dari cover CDnya. Setelah melihat, bibi cuman bisa membelalakan dan menelan ludah.
“Gimana? Are you being excited now?” tanyaku sambil nyengir lagi.
“Vie…” panggil bibi sambil menepuk pundakku. Tangannya gemetar. Aku pun tersenyum nakal.
“Apaaa?” jawabku dengan wajah tampang nyolot.
“MAKASIIIIIIIIIH!!!” Bibi memelukku erat-erat, Takuya langsung kaget saat mendengar suara teriakan bibi barusan dan mukanya cemas. Mungkin melihatku sudah mulai bengek dipelukerat-erat oleh bibi begini. (Heida : HOO! APA LU UVIE GEER!)
”Hey! Nani ka?!” tanya Takuya gopoh, sedangkan bibi langsung ngibrit kearah kamar tidurnya.
”Na..ni…mo…na—i” jawabku tersengal-sengal.Tau-tau Takuya malah tertawa kecil melihatku begini. Ah~ suara tawanya bikin bulu kuduk merinding rasanya… Suara tawanya renyah banget… Juga, ekspresi ketawanya~ uaakh… Takuya memang artis kesayanganku untuk selamanya! (Heida : Gwe juga hoi…. *noel-noel punggung Uvie*)
~Nee kotae wo nai yo.. Kyou mo keshiki wo..~
Ah, HP ku berbunyi. Takuya langsung terdiam dari tawanya dan langsung memandang kearahku setelah mendengar nada dering HP ku ini.
Kuangkat telponnya, dari Raven.
“Halo?” jawabku riang. Saat itu Takuya malah menyanyi-nanyi kecil sendiri. Dasar artis, narsisnya kambuh dah… (Heida : Iya! Takuya emang narsis!)
”Halo Uvie? Aduh.. Gimana ya, aku kangen… Eheh, tumben… Apa karena stres bikin tugas tadi kali ya?” jawab Raven diseberang sana. Aku janya tersnyum damai, senang rasanya kalai diinget ama pacar, tapi tunggu dulu, ada Takuya…
”Yaa… Mungkin aja.Tapi besok aja bisa kan? Besok kan bisa ketemu. Ada tamu penting malam ini ditempatku. Hehe..” jawabku sambil nyengir seraya melirik Takuya yang melihatku bingung.
”Yah! Yaudah deh! Gapapa kok. Aku juga udah ngantuk sih sebenarnya. Betewe, tamu pentingnya siapa? Takuya ya? Hahaha.. Ngaco banget dah!”
”Mungkin~~” jawabku sambil nyengir lagi.
”He? Beneran? Hahah! Nglawak ah!” jawab Raven balik sambil tertawa disana.
“Oke deh. Udahan dulu yah… Bye!”
“Bye~ Oyasumi”
“Oyasumi.” Aku menutup kembali HP ku yang punya model buka tutup. ”Saa~ Saa~ Let’s go to bed!” seruku seraya menuju kearah kamar. Tapi langkahku terhenti, terhenti oleh tangan Takuya yang menggenggam pundakku. Sumpah, aku sangat gugup plus kesenengan sekarang. Ya, aku sih diam aja. Lalu dia membalik badanku dan menggenggam kedua pundakku. Mukanya serius.
”Uvie-san.” Takuya tetap memandangku.
“A-a-apa?” Yah, aku terlalu gugup sampai-sampai aku membalas dengan bahasa Indonesia.
“I know this is…err.. um.. embrassing! Yes, embrassing but…” Takuya menggenggam kedua pundakku dengan wajah yang memerah. Aku sempat berpikiran yang enggak-enggak.
JANGAN-JANGAN DIA MAU NYIUM AKU?! AKH GILA GAK MUNGKIN!!! NGACO BANGET….
Tapi pengen sih… AKH UVIE LO BARU NGOMONG APA?!! (Heida : gua santet luh, Uvie…) Aku hanya bisa memandang kearah lain, tidak kuat memandang matanya yang sedang menatap tajam mataku sekarang.
”Eh hai..?” jawabku salah tingkah. Kau memberanikan diri untuk balas memandangnya.
Keadaan sunyi…
“Do you want to… teach me… Indonesian?”
SIIIIIING…
“Okelah…” jawabku lesu sambil mengangguk. KUKIRA APAAN TERNYATA MINTA DIAJARIN BAHASA INDONESIA!!
=========================================
Oke, mohon ripiunya ya!! Biye biye!! *lagi buru2 makanya gak banyak komen*
Uvie and Takuya [UVERworld Fanfict]
•5 Maret 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarIni fict UVERworld gwe yang pertama. PERDANA!! YEAH!! Oke baca aja langsung~ Beberapa saat juga ntar dimasukin FFN~ Jadi harap bersabar ya, BAGI YANG SUKA~ Heheh!
=======================
Uvie, seorang gadis yang sangat menyukai, bahkan melebihi dari menyukai, eh? Malah bisa dibilang sebagai fans sejati sebuah grup band jepang yang bernama UVERworld. Dia sangat suka pada vokalisnya, Takuya. Dia juga menyukai sang bassist yang bernama Nobuto itu. Tapi dia lebih menyukai sang vokalis daripada personil lainnya. Baginya sang vokalis tak hanya keren dan menebar pesona saja, dia juga sangat berbakat dalam bidang musik. Bisa beatboxing, rapping, bermain gitar, bass, drum, sampai piano. Namun yang lebih menarik perhatian gadis ini dari sang vokalis adalah jati diri sang vokalis yang begitu melankolis sebagai lelaki (meski dirinya tidak terlalu suka cowok melankolis, tapi Takuya memiliki sifat melankolis yang unik), perasaan kesepian yang membuat cowok itu terus ingin membuat fans-fansnya tersenyum dan berteriak ”AISHITERU!” pada grup bandnya, maupun pada dirinya. Perasaan sebenarnya dari sang vokalis yang mungkin dan entah kenapa bisa Uvie rasakan. Kesepian. Kesedihan. Kekhawatiran.
Uvie. Seorang gadis yang sekarang duduk di bangku gereja. Kerumunan orang yang sedang mengobrol diluar sana membuat Uvie gak mood untuk keluar. Ia lebih memilih di dalam dan melanjutkan kegiatannya dengan HP kesayangannya. Akh dasar koneksi lemot! batinnya kesal. Ia pun memasukkan HPnya kedalam tas selempangnya dengan keadaan GPRS tetap menyala, lalu duduk terdiam sambil mengadap kearah mimbar.
“Tuhan…” ucapnya lirih.
“Bolehkah aku bertemu dengan Takuya?”
”Semuanya juga boleh…” sekarang tersirat senyuman kecil dibibirnya.
”Ya Tuhan… Izinkan aku… Meski sekali… Meski sekilas…”
”Ya Tuhan….” ucapannya makin pelan. Diambilnya HPnya dari dalam tasnya. Dia langsung membuka foto Takuya favoritnya. Memandanginya lekat-lekat. Lalu seseorang menyentuh pundaknya.
“Hei, sampai kapan disini terus?” tanya cowok jangkung berkulit coklat itu melihatnya khawatir.
”Eng-Enggak… Aku cuman kepikiran…” gadis berambut pendek itu menunduk lagi, memandang layar HP-nya yang ada digenggamannya.
“Kepikiran apa? Kamu bisa cerita ke aku… Apa soal UVERworld lagi?” cowok itu tersenyum padanya, lalu merangkul pundak gadis itu. ”Mereka… Mereka sepertinya begitu penting bagimu. Apalagi orang itu…” kata cowok itu sambil menunjuk gambar yang daritadi dipandangi oleh si gadis, Takuya yang sedang tersenyum lesu.
”Hehe… Kayaknya iya. Tapi yang paling penting emang cuman Tuhan, pelajaran, keluarga, ama kamu kok…” Gadis itu sekarang menggenggam tangan kanan cowok yang sudah melingkar dipundaknya.
”Vie, kamu, jangan sampe lupa ama dunia ini ya.. Aku khawatir kalo kamu bisa lupa ama dunia ini cuman gara-gara sesuatu yang kamu gemari.” cowok itu memandang mata Uvie lekat-lekat.
”Iya, aku tau. Aku masih tau batas kok. Hehe~ Makasih ya, Ven..” Gadis itu tersenyum kecil.
”Oya Uvie…” sahut cowok bernama Raven itu kepadanya.
“Apaan?”
“Boleh aku menciummu sekarang? Sekedar untuk membuatmu lebih tenang… Lagian aku juga belum pernah menciummu selama ini… Sekali saja…” Raven perlahan mendekatkan wajahnya kearah wajah Uvie. Keadaannya sama denganku saat aku meminta pada Tuhan barusan… Aku juga berpikir selama ini mungkin ia telah menahannya selama 2 tahun aku dan dia berpacaran. Apa kuperbolehkan saja ya? batin Uvie.
Uvie pun memutuskan untuk diam.
Bibir dan bibir pun bersentuhan. Cukup lama. Setelah itu Raven melepas ciumannya.
Entah mengapa, pas saat bibir Uvie bersentuhan dengan bibir Raven, terbesit suatu cahaya merah di pandangannya. Ia pun merasa ngeri sendiri. Apakah itu kekuatan setan? Ini kan gereja? Tapi belum tentu juga, roh jahat juga bisa menerobos kesini… Lalu apa? batinnya lagi.
”Aishiteru…” Raven memeluk Uvie erat, begitu pula dengan Uvie. Uvie pun merasa sedikit tenang. Namun cahaya merah itu terus membayangi pikirannya.
Uvie’s Point of View
Malam ini, aku pergi ke supermarket sendirian. Raven sibuk dengan skripsi yang sedang ia buat untuk kelulusan S1 nanti. Aku sebenarnya juga sedang melaksanakan tugas skripsi ku, tapi aku kan kontrakan? Gimana coba kalo gak ada makanan? Jadi aku terpaksa membuang waktu 30 menit untuk ini.
”Terima kasih mbak. Silahkan datang kembali” Kata mbak kasir di supermarket tersebut. Aku langsung nyelonong pergi lalu berjalan di jalan yang sepi. Maklum, sudah agak malam, sekitar jam stengah sembilan-an. Aku pun mempercepat langkahku. Tiba-tiba, kudengar rintihan suara cowok di sekitar semak-semak. Semak-semak itu terlalu mengerikan bagiku. Gelap. Aku pun terus berjalan, tanpa memedulikannya. Paling orang gak bener lagi begituan di balik sana. Tapi…
”Ta-Tasukete…” Terdengar suara yang pelan dan menyayat. Entah kenapa. Aku pun menelan ludah dan memberanikan diri melihat ke balik semak-semak di pinggir jalan itu. Aku tak bisa melihat jelas muka pria tersebut. Pria itu sudah bangun dan meminta pertolongan ini. Tapi kenapa pakai bahasa jepang…?
”A-Ano… Watashi wa do-doko..?” tanya pria itu pelan sambil memegangi kepalanya yang terlihat sedikit berdarah. Tapi, aku sedikit terkejut dan terbelalak saat menyadari siapa orang itu…
”Ta-Taku-Takuya…” ucapku tanpa kusadari, membuat cowok yang sedang kubopong untuk berdiri balas memandangku.
”Naze anata wa ore namae o shiteru no?” Tanya orang yang sepertinya bernama Takuya itu memandangku curiga.
“Ta-Takuya… Shi-Shimizu Ta-Takuya…” ucapku lagi tanpa sadar. Astaga. Suaranya sama persis! batinku.
”Hoi! Naze omae wa ore no namae wa shiteru no?!” Kali ini cowok yang ternyata memang benar Takuya itu berdiri dan menjauh dari tempatku berada (plus merubah gaya bahasanya menjadi kurang sopan)
“U-UVER.. UVERworld…” sahutku pelan.
Takuya terdiam.
“Sou ka… UVERworld ka… Haha..” Takuya hanya tertawa kecil. Bisa dibilang Takuya sedang tertawa gila sekarang. Pandangannya mengarah padaku terus. Lalu mendekat.
”A.. Err.. Nani o suru nda?!” Aku mundur beberapa langkah. Bukannya berteriak kesenengan bisa bertemu artis yang AMAT SANGAT DAN SANGAT dipujanya ini, aku malah menjauh karena aku takut ia akan mencekik ku atau bagaimana karena pandangannya mengerikan sekarang. Tapi ternyata salah…
Bruuuk…
Tubuhnya jatuh diatas tubuhku. Aku tak kuat menahan berat tubuhnya (Heida : Haah~ Uvie mah akting doang~ orang Takuya beratnya cuma 56kg doang..), pastinya aku juga ikut jatuh, jatuh duduk. Wajahnya terlihat pucat. Takuya pulas tertidur di atas tubuhku. Sejenak kurasakan kebahagiaan yang tak dapat kuungkapkan hanya dengan kata-kata, bahkan dengan otakku sendiri. Tanganku pun kuberanikan untuk menyentuh rambut coklat tuanya. Halus. Lembut.
Setelah beberapa saat aku merasakan kejanggalan. Dimana personil lainnya? Pasti ada di sekitar sini! Aku harus mencari personil lainnya! Kuputuskan untuk meninggalkan Takuya sendirian terlebih dahulu, baru mencari yang lain.
16 menit telah berlalu…
Aku tak menemukan siapapun disekitar sini. Akira, Nobuto, Katsuya, maupun Shintarou tidak kutemukan. Aku pun kembali ke tempat dimana aku meninggalkan Takuya sendirian.
”Muda da…”
Hah? Takuya tadi bicara apa?
”Nani? Kikoenai…” aku membalasnya.
”Muda da..! Anohito-tachi koko ni arimasen….” Takuya berbicara dengan posisi tetap. Telentang dengan tangan bertumpu di dadanya.
“Naze?! Naze Ta- Shimizu-san dake?!” aku terbelalak mendengarnya. Jadi hanya Takuya saja yang berada disini. Ada apa sebenarnya? Apa karena permohonanku yang kemarin?! Aku tidak percaya ini… Ini pertemuan yang menyakitkan… Entah mengapa menyakitkan.
“Takuya. Takuya ii…” Takuya menoleh kearahku dan tersenyum padaku. Aku sangat terkejut melihat ekspresinya itu. Rasanya aku ingin terbang saja. Apalagi ia menyuruhku memanggilnya dengan nama depannya saja barusan.
”O namae wa?” sekarang Takuya bertanya padaku.
”U-Uvie…”
”Waa! Sugee o namae wa! Onaji hondou no namae UVER no yonda” Takuya tersenyum. Aku sedikit gak ngerti omongannya, tapi aku tahu Takuya sedang memuji namaku, terlihat dari kalimat ‘sugee o namae wa!’ yang dia ucapkan tadi. Aku pun ikut tersenyum.
“Arigatou, Takuya-san…” aku tertunduk malu.
“Hora mite!! Houki boshi!!!” Takuya langsung terduduk dan menunjuk kearah dimana komet itu lewat. ”Horaa, hoshii ni tsukuri sasaete!” ajak Takuya semangat. Ia langsung melipat tangannya dan berdoa. Sepertinya dia percaya cerita-cerita begituan. Haha! Lucu juga sih.
“Takuya-san, houki boshi no koto shinjiru?” Aku bertanya padanya dengan muka ingin tertawa, namun akhirnya aku tertawa.
”Hmm… Sedikit.” HAH? APA? Barusan Takuya bicara 1 kata dari bahasa Indonesia! Apa cuman perasaan aku aja?!
”Takuya-san! Saki… Indonesia no kotoba dekiru?!” Aku mendadak semangat sekaligus kaget.
”Uhm… Sedikit juga.” Takuya tersenyum. Meski terdengar aneh karena beberapa huruf mati diakhir kalimat seperti ada tambahan huruf. Contohnya seperti kata ’Sedikit’, Takuya mengejanya menjadi ’Sedikito’. Haha! Namanya juga orang Jepang… Tapi setidaknya itu udah usahanya belajar sedikit bahasa negeriku ini.
”Uvie-san, nihongo dekiru?” Takuya kembali bertanya. Kok perasaanku Takuya banyak tanya ya? Bukankah dia orang yang tipenya pendiem begitu? Wong Takanori yang fansnya buanyak trus namanya lebih diatas Takuya, dia cuekin. Kok kali ini dia beda?
”Uhm…Sukoshi… dake…” Aku tertawa kecil.
”Heee… Hontou??” Takuya melirikku gak yakin dibawah terangnya sinar bulan dan bintang, membuatku bisa melihat jelas sosok dan ekspresi wajah Takuya yang terlihat senang.
”Hontou!! Aa!! Aku terlambat! Aku harus pulang! Mampus!” Tiba-tiba aku teringat situasiku sekarang yang sedang dikejar tugas skripsi dan perut yang sebenarnya udah lapar dari tadi. Takuya terlihat bingung apa yang barusan aku katakan.
”Kamu… ter-lam-bato?” Takuya bertanya padaku. Sepertinya ia kebingungan karena tiba-tiba aku terburu-buru.
”Kaeru!! I must go home! My stomach is singing now!” Aku mengelus-elus perutku yang lapar ini. Takuya pun menangguk sedikit. Aku pun berlari meninggalkannya.
”MATTE!!!” Takuya menarik tanganku. Aku langsung merasa ada aliran listrik menyerang tubuhku. Tubuhku langsung lemas dan susah digerakan. Aku tak percaya bisa disentuh olehnya.
”Iku.” Ujar Takuya pendek.
”Hah?!” Sekarang aku gak percaya seorang yang sangat-sangat tak terduga mau ikut bersamaku. ”Dame! My place isn’t too good for you… It’s too-”
”IKU!” Kalimatku dipotong Takuya dengan menaikan nada suaranya. Matanya memandangku lurus, seram, tapi terlihat ketakutan.
”Aa… I bet you, you’d be bored at there.” Tukas ku sedikit kesal, namun juga sedikit senang karena ia mau ikut denganku. Aku membantunya berdiri. Kuraihnya tangannya dan kutarik pelan-pelan. Takuya berdiri dengan kakinya yang gemetaran.
”O-ore no atama…” Takuya memegangi kepalanya. Darah yang tadi berhenti mengalir kembali mengalir saat berusaha meraih tanganku tadi.
”Aa! Gomenasai! Ore no sei de..” Aku bersimpuh di dekatnya dan mulai mengambil tisu yang kubawa di tas selempangku, lalu ku elap pelipisnya yang tergores lebar entah terkena apa. Sekejap aku merasa seperti aku sudah seperti kakaknya. Takuya yang merengek kesakitan dan aku yang langsung berusaha menenangkannya dan mengobatinya. Aku merasa sebuah, bukan, berlimpah-ruah berkat padaku hari ini. Hal yang sangat amat tak terduga seumur hidupku ini. Apa ini hanya mimpi? Aku sih sering bermimpi tentang UVERworld, tapi gak pernah aku merasakan deg-degan yang terasa begitu nyata seperti ini. Jadi, semoga hal pada hari ini bukan mimpi…
”Hoi”
Bayanganku dipecahkan oleh suara Takuya. Aku sedikit terperanjat.
”E- mail?” sahutku pelan sambil memandang wajahnya, walau tidak terlalu lurus saat memandangnya.
”It’s getting late. We should go.” Ucap Takuya terbata-bata.
“Eh… You’re right. We sho-“. Belum aku berdiri, lagi-lagi tangan Takuya menarik tanganku. Tangan Takuya menyentuh tanganku (lagi)!! batinku kesenengan. Aku sedikit menunduk dan kembali bersimpuh dihadapannya.
“What should I pay for you? For found me this night…” Takuya memandang mataku dengan tatapan sedikit… melas? Ah, bayanganku saja. Aku kembali konsentrasi dan berusaha supaya tidak salah tingkah. Lagian bisa bahaya kalau aku bisa jatuh hati BENERAN dengan orang ini. Aku kan sudah punya Raven…
”Err… Your signature? Hehe~!” Aku buru-buru mengambil dompetku. Seingatku aku menyimpan kertas disana. Tapi…
“Ii. Where’s the pen?” Takuya menyodorkan tangannya.
“Aa!! Begonya guee!! Gue lupa!!!” secara gak sadar aku melontarkan kalimat dalam bahasa Indonesia, apalagi bahasa slang. Mungkin Takuya sekarang sedikit tersinggung. Mampus aku..
”Nani ga ita?” Takuya sedikit bengong. Wajahnya menandakan dia bertanya-tanya atas apa yang kukatakan. Tapi sepertinya dia tidak marah, eh? Mungkin aja marah, dia kan jago memanipulasi mukanya. Dasar artis!
”Owh, gomen. I’ve said something with Indonesian slang languange. Really really gomenasai! I didn’t bring my pen… Sorry…” Aku membungkukan badanku berulang kali. Dia hanya diam tapi wajahnya tetap bingung.
“Owh… I have a idea!” Ya ampun.. dia lupa nambahin ‘n’ dia partikel ‘a’ nya. Kan itu pake huruf vokal, tambahin dong ’a’nya pake ’n’! Dasar katrok Inggris.
”What idea??” balasku
”Bring me to your house.” Takuya memalingkan muka saat mengatakan hal itu. Heh kau kira aku bakal mikir aku mo ngapa-ngapain kamu?! Hii ge-er dah.
”Demo, Takuya-san mo iku tatoeshitara… Err.. Abunai…” Aku sedikit menunduk. Aku pura-pura tersipu-sipu saja, biar dia senang! Itung-itung bisa berbagi keromantisan malam. (Heida : Sialan luh Uvie! Gue juga mau!! *narik-narik baju Uvie*)
”Ano koto wasure. Let me go to your house.” Takuya sekarang berbicara sambil memandang langit. Langit yang kosong. Sudah malam, dan bintang mulai bersembunyi di balik kabut malam. Membuat suasana dibalik semak-semak kembali gelap.
“But-“ Belum sempat kalimatku selesai, Takuya…
”Kowaii…” potong Takuya dengan suara bergetar. Tahu-tahunya ia sudah menangis, tetap memangdangi langit yang hitam yang hanya diterangi oleh bulan.
“Okay.. Ii…” jawabku lirih.
“Hontou?!’ Takuya langsung memandangku dengan matanya berbinar-binar (sepertinya). Senyuman puas terukir indah di wajahnya. Tak kuat ku melihat senyum di wajahnya itu. Aku pun memalingkan wajahku. Aku teringat sesuatu…
“Hey but! But my house owner is very furious…” Aku menatap kearah jalan yang menuju ke kontrakanku denga raut muka kecewa.
”Fu..Furiosu??” Takuya mengeja salah satu kata yang mungkin gak pernah dia dengar. Pemikiranku sih paling dia belum tau artinya.
”Umm… A person who likes to angry.” Jelasku.
“Owh… Wakatte,” Takuya menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya nggak gatal itu. “So I can’t come in, is that you mean?” lanjut Takuya sehabis menggaruk-garuk kepalanya itu.
“No. You can come in.” jawabku sambil bingung juga. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya enggak gatal itu.
“So what’s the problem?” Tanya Takuya lagi dalam bahasa inggris yang tergagap-gagap, membuatku ingin tertawa.
“Ukh, time goes on. If you want to come to my room, for rest of coursly, do my command! I’m in hurry now…” Aku langsung berdiri setelah selesai mengobati pelipis Takuya yang luka itu.
“Err, but…” Takuya menepuk pundakku dari belakang, memberhentikan langkahku.
“What?” Ujarku padanya setengah kesal.
”……” Takuya menundukan kepalanya.
”Nani o?” Aku menatapnya bingung.
”Nanka… Nodo ga kanjiru…” Takuya tersenyum merajuk. Aku langsung mengernyitkan alis dan menatapnya kesal.
”Takuya-san baka.”
======================
Hohoho~ Fict UVERworld Heida yang pertama! Yaa~ Gak ada fandomnya sih, ya tapi setidaknya aye pengen jadi yang pertama nulis en nerbitin UVERfict di sini. *tau2 narsis sendiri* xD
Nighty Chapter 2
•28 November 2009 • Tinggalkan sebuah KomentarHai!! Heida-chan balik lagi niiih!! Dengan cerita yang (mungkin) lebih seru. Hahahahaha!!
Heida-chan ngebuat ni cerita begadang ampe jam 11 malem. Bingung mau menentukan nasib 4 orang itu. Rita, Elco, Arlito, dan Ichi. Dan jadi nya… yaa.., baca ndere…. Tapi cerita ini masiiiih panjang lho! Mungkin sampai 4 chapter (masing-masing chapter max. 11 hlm HVS^^)
Oya! Thanks banget ma temen curut gw yang bantuin gwe! Ricuy. I luph u!! *dipanggang jadi sate ama Ricuy* Dia master kalo bikin cerita roman ama yang semacamnya.
Oke lah ngemeng-ngemeng nya. Enjoi!!
Rate : Just T!
Genre: Hurt&Comfort/Roman/Fiction
A/n : Ini cerita gombal dan abal. Jika tidak suka, silahkan angkat kaki dari halaman ini.
============================================================
Chapter 2 NIGHTY
Presented By : Heida-chan n‘ Mbah Ricuy
============================================================
Chappie 2
Aku tetap memandang papan tulis dengan tatapan tajam seperti biasanya. Mencoba untuk menguasai setiap bagian dari setiap bab yang dijelaskan kali ini. Namun, gara-gara surat kutukan dari Ichi yang membuat konsentrasiku buyar, guru memarahi ku karena aku tak konsen saat disuruh guru untuk menyimpulkan bab pada hari itu di depan kelas. Akhirnya, aku diajak bicara oleh guru itu setelah pelajaran selesai.
“Rita, baru kali ini kamu tak konsen dan tak bisa menjelaskan pelajaran Ibu. Pelajaran Ibu bukannya yang paling gampang menurutmu?“ kata Ibu Guru yang mengajar Biologi.
„Uhmm… Maaf bu. Saya memang lagi tidak konsen.. Maafkan saya bu, lain kali tidak akan saya lakukan lagi.“ Aku menunduk malu.
„Oke. Ini sudah biasa. Manusia juga punya batas. Bu guru juga pernah melakukan kesalahan. Belajar lebih rajin lagi ya. Besok ibu mau memberi mu tugas. Oke??“ Bu Guru menepuk kepala ku. Rasanya dia tidak marah padaku sama sekali.
„Iya bu.“ Jawab ku pendek. Aku pun memandang Bu guru yang semakin lama semakin jauh melangkah dari ambang pintu kelas. Tatapan ku sekarang tertuju pada seorang laki-laki familiar yang lewat di depan Bu Guru dan sekarang sedang diajak berbicara dengan Bu Guru. Itu Ichi. Bu Guru memberi sebuah kertas kepada Ichi lalu menunjuk ke arah kelas ku. Aku bingung, mungkin Bu Guru melupakan sesuatu.
Kulihat Ichi berjalan ke arah kelas ku dengan tatapan sinis seperti biasanya. Aku mulai kesal, karena berani-beraninya ia menginjakkan kaki nya di kelas ku sekarang.
„Ketua Kelas dimana ya?“ Ichi berseru di depan kelas sambil memegang selembar kertas yang tadi diberikan oleh Bu Guru. Haha… Suaranya yang dingin itu berubah drastis menjadi suara ramah yang sedang berseru. Haah… Malapetaka hari ini telah menimpaku. Akulah Ketua Kelas nya! Sial…
„Ya,ada apa..?“ jawab ku dingin terhadapnya. Ichi mengeluarkan wajah kaget, namun cuman sesaat. Aku hanya tersenyum kecut, „Kaget aku seorang ketua kelas huh?“
„Tidak… Kelas mu begitu ribut saat pergantian pelajaran“ Ichi menjawab dengan dingin juga. Yah… Sekarang kelas ku sedang ribut, sebagian besar keributan ditimbulkan oleh cowok-cowok dan yang cewek-cewek klenger melihat sosok Ichi di kelas ini. Aku bingung, apa bagusnya dari Ichi ini??! Mending Arlito… Tapi kenapa Elco mengatakan aku suka Ichi.. Huff, mungkin dia juga ikut-ikutan jodoh-jodohin aku denga Ichi karena hasutan Nia… Biarin lah…
„Yah… Sekarang ada apa? Kertas apa itu?“ Aku menunjuk kertas yang dipegang oleh Ichi. Ichi tersenyum aneh .
„Kenapa? Tiba-tiba tersenyum aneh seperti itu?“ Aku mencurigai tindakan Ichi. Jangan-jangan dia…
„Tidak. Aku tak bermaksud negatif. Cuman, aku juga mendapat kertas yang sama dari Bu Guru, baca saja. Nih.“ Ichi menyodorkan kertas itu. Aku akan mengambilnya dari tangan menyebalkannya tanpa menyentuhnya! Gyahahahaha! Tapi tunggu… Posisi tangan Ichi yang menyodorkan kertas itu tak membuat kemungkinan aku tak menyentuhnya! Malah 100% aku bakal menyentuhnya! Apa dia sengaja?! Ah.. Tidak mungkin… Dia tak mungkin melakukannya, karena aku dan dia adalah musuh besaaaar! Ah tau ah! Biarin, pokoknya nanti pulang sekolah aku harus cuci tangan pake sabun LUX! Gyahahahahaa!
Ternyata benar, aku menyentuh tangannya…
Tapi entah napa aku merasa sedikit salah tingkah setelah itu. Aku membaca isinya, tiba-tiba Ichi tertawa. Aku tak memedulikannya, mungkin itu karena perbuatan konyol teman-teman di kelas… tulisan itu adalah :
“Rita, setelah pulang sekolah hari ini, bisa pergi dengan Ichinose dari 10B ke rumah Ibu? Ibu perlu bantuan mu, sangat perlu. Jika tidak, tak apa, masih ada Ichinose. Tapi USAHAKAN datang. Soalnya ini adalah hal penting.“
-Bu Vio-
APAAAAA?!! Pergi ke rumah Bu Vio (itu nama Bu Guru Biologi kami) dengan Ichi?!! No.no.no.no… NOO!!
„Kenapa? Kamu keringatan. Bawa sapu tangan gak? Klo tidak, nih!“ Ichi mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelapkannya ke keningku, namun tangannya aku tepis keras-keras. Mana mau bekas mu mengenai kening ku!!
„He-Hei!! Itu bisa saja bekas keringat mu atau ingus mu! Aku bisa ketularan! Hiii…“ Aku sedikit jijik dengan perlakuan Ichi saat itu. Sangat. Tapi, kenapa harus Aku dan Ichi?!
„Hei, kenapa harus denganmu?!!“ Aku menunjuk-nunjuk wajahnya.
„Aku gak tau. Aku tiba-tiab saja dikirimi surat seperti mu dari Bu Vio dari teman. Keberatan??“ Ichi nyengir.
„Saaaangaaat keberatan!! Gak sudi…!! Mending bareng ma Ar.. Ah tidak..“ Wow! Aku hampir aja kelepasan… Kalau Ichi tau, kemungkinan 100 % dia nyebarin ke pelosok sekolah ampe serangga-serangga tau! TIDAAAK!!
“Arlito? Oh, kau suka padanya kan?”Ichi merespon dengan tenang dan menjawab dengan jitu.
„EH?!! SIAL! Kamu tau! Ingat jangan beritau siapa-siapa!! Sial… Tapi,kok lo ada kata ‚kan‘ nya?! Kamu tau dari dulu??!!!“ Aku berseru di depan kelas. Ichi mengangguk dengan santainya. Sekarang semua mata melihat aku dan Ichi.
„Cieee!! Cewek ama Cowok paling populer pertama lagi pacaran!! Wuhuuuiii!” seru seorang cowok memecah keheningan. Aku langsung panik karena sekarang semua sedang mencie-cie in aku dengan Ichi.
„DIAAAAAM!! HOI, BOKEE!!!“ Aku membentak semua. Kulihat ekspresi datar Ichi di sebelah ku. Ia tak terlihat panik atau bagaimana di situasi ini, malah dia mengeluarkan ekspresi sok cueknya. Sekarang, Ichi sok melipat tangan di depan dada. Hal itu sukses membuat para cewek di kelas ku kembali klenger. SIALAAAN!! PERGI KAU DARI KELAS DAMAI NAN SEJAHTERA KU INI!!
„Pergi kau!! Tapi, aku merubah pikiran. Aku datang ke rumah Bu Vio. Ingat itu.“ Aku berseru ke arah Ichi. Ichi hanya mengangguk, tapi, dia sekilas terlihat tertekan… Kenapa ya?? Ah tauk ah!! Sekarang aku harus menenangkan kelas!
++++++++++++++++++++++
10 menit dalam pergantian pelajaran berakhir, aku tetap melamun tak jelas di bangkunya. Saat guru bahasa datang, aku ditegur oleh teman sebangkunya karena tidak menyiapkan kelas untuk memberi salam. Lagi-lagi aku ditegur oleh hal yang disebabkan oleh perilaku Ichi Si Sialan itu… Tidak… Hari ini mungkin pertanda buruk…
Tapi, mungkin ini juga hari keberuntungan ku… Aku bisa bersenang-senang tanpa sesuatu yang menghantui ku karena aku bisa bersenang-senang dengan Bu Vio dan Biologi nanti… Haah… Biologi, I luph U! Tapi, tetap aja ada Ichi yang ikut datang. Coba dia ada urusan lain yang penting setelah pulang sekolah mendadak.. Haah, aku bebas..
But wait.. Something wrong.. Urusan penting setelah pulang sekolah?? Aku melupakan sesuatu yang penting… Oya, tadi pagi aku menangis karena apa?! Aduuh… Kuraba saku rok ku, kulihat ada dua kertas di tangan ku. Hmmm… Ini yang dari Bu Vio, dan satunya apaan? Hmmm…. HAAAAH?!!! Yah… TIDAAAK! Aku lupa!! Sekarang pikirkan prioritas… Hmm… Ke rumah Bu Vio atau ke makam Ayah Ichi?? Aaah.. Kalau aku ke rumah Bu Vio, aku bakal dapat nilai plus, tapi kalau ke makam Ayahnya Ichi, aku mungkin bisa berbaikan dengan Ichi… Tapi, ICHI ADALAH MUSUH PARA CEWEK YANG SEBENARNYA! Mending aku ke rumah Bu Vio! Ya, sudah kutetapkan!
KRIIIING!! *Bel pulang sekolah berbunyi*
Aku segera mencari Ichi di kelas nya, sekalian bertemu dengan Elco untuk merundingkan hal ini dengannya bertiga. Setelah kulihat sosok Elco yang berjalan keluar dari kelasnya bersama Ichi. Geeee. Mereka sedang tertawa bareng. Sialan kau Ichi.. Yasudahlah, yang penting sekarang langsung nanya.
„Elco! Hah..hah..hah..“ Aku pura-pura terengah-engah, supaya terlihat beneran serius nyariin Elco dan Ichi Berengsek itu dengan susah payah. Setelah aku menghampiri Elco, Ichi langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi wajah dingin.
„Hei! Jadi gak kamu pulang sekolah ini bareng aku dan Arlito..mm, dan pastinya Ichi?“ lha? Yang nanya kok malah Elco sih? Tunggu, Ichi memilih pergi ke makam ayahnya?! Yes! Aku bisa bersenang-senang dengan Bu Vio! Sekarang Elco menarik lengan ku agak menjauh dari Ichi.
„Hei hei!Kenapa?“ aku bingung Elco segera menarik ku.
„Bodoh.. Keliatannya kau tidak bisa ikut bersama kami?!“ bisik Elco di telinga ku. Aku tercekat karena Elco mengetahui isi kepala ku untuk tak datang di acara nya Ichi. „Hei hei… Bisakah kau sedikit mengerti perasaannya??! Meski kau musuh terbesarnya, cuman kau kan cukup dekat dengannya karena kau berinteraksi dengannya setiap hari meski dengan ejek-ejekan…“. Lagi-lagi Elco benar… Yah, dia memang cowok paling dewasa yang pernah kukenal.
„Tapi… Aku ada acara la..“
„Dari Bu Vio kah? Aku juga sudah diberi tahu oleh Ichi. Tapi katanya Ichi, ia membatalkan perjanjiannya dengan Bu Vio langsung saat ia mendapat surat itu. Kau memilih mana sekarang? Memilih kau mengawali hubungan baru dengan Ichi lebih baik? Atau hanya mendapat nilai yang tidak akan bertahan lama di hidup mu?“ Elco memeberi ku pilihan yang mungkin 90% membuatku memilih untuk pergi melayat.. Jujur saja, aku tetap bingung.
„Rita, apakah enak jika hidup mu penuh dengan permusuhan dengan Ichi yang seharusnya bisa menjadi sahabat mu?“. Ichi? Menjadi sahabat ku? Hah..“ Rita… Kau benar-benar keras kepala… Sama dengan musuhnya..“ Elco menempeleng kepala ku pelan.
“Tapi aku memang bingung!“ Aku berseru saat Elco berjalan menghampiri Ichi. Ichi tetap berekspresi datar dan dingin. Kini aku dilanda sesuatu yang mungkin bisa saja membuatku menangis lagi.. Akh! Aku tak mau menjadi cengeng!
“Oke. Aku ikut. Cuman sebentar,“ Yah.. Aku akan ikut, aku akan menghargai sedikit undangan Ichi.
“Oke!! Bagus Rita! Sekarang kita jemput Arlito di kelas nya!!“ Elco kembali menunjukkan sifat semangat nya. Aku dan Ichi mengikuti Elco dari belakang dalam diam. Kadang aku menyadari Ichi memperhatikan ku saat berjalan di koridor, aku pun langsung menjulurkan lidah ku dan langsung memalingkan wajah dan Ichi memukul kepala ku dengan gulungan kertas ulangan yang dia pegang. Pada akhirnya, aku dan Ichi bertengkar tidak jelas.
“Yang mau pacaran, jangan disini.“ Kata Elco dengan kedua tangan menumpu kepala sambil berjalan.
“Dia yang mulai!“ aku berteriak dari belakang sambil mendorong bahu Ichi. Ichi cengengesan dan balik mendorong bahu ku lebih keras. “Hei!! Kau yang mulai kan?!“ Aku membentak Ichi.
“BlaBlaBlaBlaBla…“. Tch! Ichi mulai lagi dengan aksi yang membuatku kesal. Setiap aku memarahinya, ia pasti melakukan hal itu.
Setelah sudah sampai di depan kelas Arlito, pertengkaran aku dan Ichi berhenti dengan tak jelas. Arlito muncul dari balik pintu. Tak percaya dia sekarang menggunakan kacamata. Hal ini membuatku terpesona, wajahku mulai memerah.
“Ah! I-Ini… Aku memakai ini saat pelajaran saja!“ Buru-buru Arlito melepas kacamatanya saat Elco cengar-cengir melihat temannya juga memakai kacamata. Elco langsung merangkul bahu Arlito dengan tangan kirinya.
“Hei!! Aku jodoh dengannya! Aku dan Arlito sama-sama pakai kacamata kan?!“ Elco menunjuk-nunjuk kacamatanya. Aku, Arlito, dan Ichi hanya nyengir melihat perlakuan bodoh dari Elco.
Tanpa banyak omong lagi, kami berempat langsung pergi ke makam Ayah Ichi. Ada peristiwa lucu dan menyebalkan saat kami berjalan berempat. Yang konyol adalah saat Ichi memperhatikan aku dan tanpa sadar di depannya ada telepon umum, dan pastinya kepalanya itu menabrak besi keras itu sampai telepon itu sedikit bergetar. Aku dan Arlito tertawa terbahak-bahak sedangkan Elco bingung mengobati memar di dahi Ichi. Yang lainnya, aku dengan bodohnya masuk selokan yang untungnya kering dan di dalamnya terdapat daun pisang menumpuk sehingga badanku tidak sakit saat jatuh. Hal ini karena Si Ichi sialan itu mendorong bahu ku tanpa mengira di sebelah ku ada selokan. SIALAAN! Tapi kesialan ku ini tidak terlalu menyakitkan daripada Ichi yang kepalanya pusing gara-gara peristiwa Tabrak-Memar-Telepon itu..
“Yah! Kita sampai nih!“ Seru Ichi. Hah?! Tadi aku sempat dengar suara semangatnya! Coba ulangi! Hahahahaha! Beda sekali saat ia sok dingin di depan ku. Mungkin saat itu, saat di telpon itu, ia begitu semangat seperti ini.
“Hei Ichi! Coba ulangi sorakan mu!“ pinta ku ke Ichi. Ichi memperhatikan sejenak, lalu dengan keras ia mengatakan, “NENEK RITA! HAHAHAAHAHA!“ serunya semangat. Sialan! Jangan berseru semangat seperti itu dengan mengejekku.. Geee. Arlito dan Elco hanya tertawa melihat aku dongkol.
Kami berempat pun menemukan makam Ayah Ichi. Dibuat dari batu pualam putih, dengan hiasan bunga mawar putih di ujung batu nisan itu. Cukup menawan, kataku sambil tersenyum. Namun saat aku melihat Ichi, aku terkejut setengah mati. Aku, Elco, Arlito sangat terkejut melihat pemandangan langka ini. Ichi meringkuk jongkok dan menangis. Di tangannya terdapat kalung dengan batu saphire indah, mungkin itu adalah peninggalan ayahnya.
“Aku bodoh…“ Ichi bergumam. Aku, Elco, dan Arlito mendekatinya untuk bisa mendengar perkataannya lebih jelas. “Aku bodoh. Aku lupa membawakannya.“ Ichi makin menjadi. Aku belum tau bagaimana kehilangan orang yang paling disayangi. Cuman berkat Ichi, aku mulai mengerti bagaimana rasanya.
“Aku lupa membawanya… Mawar putih… Dia sangat menyukainya..” Ichi berdiri, dimatanya masih tergenang air mata di mata biru tuanya. Aku mengerti sekarang, mengapa di nisan itu terdapat ukiran mawar putih, rupanya Ayahnya Ichi sangat menyukainya. Tiba-tiba, otakku menyuruhku untuk untuk berlari keluar dari komplek pemakaman dan menuju toko bunga terdekat. Segera mata dan tangan ku mengambil buket mawar putih dan segera membelinya. Setelah aku balik, tanganku mengangkat tangan Ichi dan memberi buket itu di tangannya secara tak sadar. Aku baru sadar apa yang kulakukan saat Ichi memelukku erat.
“Entah apa yang bisa kubayar karena kebaikkan mu..” Ichi lagi-lagi mengeluarkan air mata sambil memelukku. Aku kaget, segera aku melepaskan pelukannya itu. Niatku di pagi hari itu yang ingin memeluk Ichi, ternyata dilakukan oleh Ichi duluan. Elco dan Arlito diam seribu kata melihat apa yang mereka saksikan. Wajahku dan wajah Ichi sama-sama merah padam. Ichi tetap memandangku sedangkan aku mengalihkan pandangan ku ke nisan ayah Ichi.
Ichi pun meletakkan buket mawar putih itu di depan nisan Ayahnya. Ichi memandanginya beberapa detik dan mulai berdoa. Elco dan Arlito menepuk kedua pundakku dari samping.
“Rita, kita berdoa yuk!“ ajak Elco dengan senyum lebar disertai juga senyuman Arlito. Aku pun melipat jari ku dan mulai berdoa. Elco dan Arlito melakukan hal yang sama denganku. Tak kusadari saat ku berdoa,air mata mengalir dari pelupuk mata ku. Aku berdiri setelah selesai, kulihat ketiga cowok itu tersenyum padaku, terutama Ichi yang pertama kali aku melihatnya tersenyum tulus seperti itu kepadaku. Wajah lesu ku berubah menjadi wajah merona. Aku langsung memalingkan kepala.
“Rita, ada yang mau dibicarakan Ichi saat ini. Sementara, kami berdua disuruh Ichi untuk pergi dulu, bicaralah padanya baik-baik. Apalagi kalian berdua ada di depan makam Ayahnya. Oke?“ Arlito membisikan kalimat itu sangat pelan di telinga ku supaya Ichi tak mendengarnya. Aku pun mengangguk pelan.
Elco dan Arlito pun pergi… Kulihat Ichi berdiri di sampingku dan hal ini membuat detak jantungku tak karuan. Ada apa ini?!! Masa aku suka padanya?!! Tak mungkin.. Aku suka pada Arlito kok!
”Ehem…Uhm” Ichi mendeham.
“Aaah!!” aku kaget. Kaget karena keheningan ini dipecah oleh dehaman Ichi.”Jangan buat kaget, kau sialan..“ aku meliriknya tajam.
“Aku tak berniat menganggetkan mu! Ehm, begini. Kau pernah bilang padaku bahwa kau menyukai Arlito bukan?“ Ichi sekarang menghadapku. Otomatis aku juga ikut mengahadapnya, supaya aku lebih bisa melihat ekspresi nya jelas-jelas.
“Ya.. Memang kenapa? Kau cemburu?? Hahahahaha… Bercanda..!“ Aku mulai menganggap hal ini lelucon, karena aku tak suka yang serius-serius.
“Jujur saja, ya.“ Ichi menjawabnya datar. Jantungku kembali berdetak tak karuan setelah mendengar jawaban itu dari mulut Ichi. Jangan-jangan anggapan Elco dan Arlito memang benar, kalau Ichi suka padaku?! Hahahaha! Tak mungkin! POSITIVE THINKING!
“Hahahaha! Pasti kau bercanda! Aku tau sifat mu yang sedari dulu suka menipuku! Aku tak percaya!“
“Aku serius. Mau kubuktikan?“ jawabnya lagi. Tapi kali ini ekspresinya berubah, mata nya menatap mataku tajam dan cara menjawabnya agak keliatan beda dari biasanya.
“Buktikan apa? Haha. Tak perlu dibuktikan, aku sudah tau,“ Aku melipat tangan ku di depan dada.
“Kalau kau tau maksud ku? Kau terima?“. Jawaban Ichi makin membingungkan. Aku tak mengerti maksudnya menerima..
“Maksudmu aku menerima, apa?“ Aku jadi bingung dan sedikit serius. Ichi menghela nafas. Tangannya yang mengepal ia buka dan menepuk dadanya.
“Bodoh. Aku menyukaimu.“. Sekarang wajah Ichi merah padam. Ia memalingkan muka.
“Apa? Aku tak dengar. Tadi ada 3 bis berisik lewat.. Tolong ulangi..,“ memang benar, aku tak dengar perkataan Ichi saat itu karena 3 Bis besar lewat.
Ichi mendekat dimana aku berdiri, dan kemudian memelukku erat. Detak jantung ku kembali berdetak tak karuan. Tubuh Ichi yang hangat memelukku dan tangan kanannya menempel pada kepalaku. Sungguh aku tak mengira dia akan melakukan ini padaku.
“Aku mencintaimu, cewek bodoh..“
Aku tak percaya. Benar-benar tak percaya. SANGAT TIDAK PERCAYA. Ichi menyukaiku, eh salah, Ichi mencintaiku?! Padahal ia tak pernah menunjukkan 50 tanda-tanda cowok naksir pada cewek!? Ah, apa aku terlalu mengandalkan teori? Tapi, tetap saja! Aku tak pernah merasakan bahwa ia telah menyu, salah, mencintaiku! Aku membencimu! Bukankah kamu tau, aku menyukai Arlito!! Kenapa kau tak menerima nasibmu saja tanpa balasan perasaan dariku!?
“Tapi, aku membencimu.” Jawab ku pendek. Aku tak mau pacaran dengannya, mungkin hidupku akan hancur bersamanya. Tapi alasan dia mencintaiku apa?? Bukankah aku selalu menjahati dirinya dan perasaannya?! Ichi pun melepas pelukannya. Entah kenapa aku merasa kecewa saat ia melepas pelukannya. Apa aku sudah tak waras?!
“Aku tak peduli kamu membenciku, tapi aku ingin kamu tau kalau aku mencintai mu.” Ichi menatap mataku tajam dengan mata biru tuanya. Sekilas, aku menjadi ingat Hei dari anime Darker Than BLACK . Dulu aku sangat menyukai Hei, sampai-sampai aku pernah menganggap Hei nyata dan memanggil-manggil namanya hingga menangis karena Hei tidak kunjung datang ke kamar ku. Sangat konyol. Tapi, sekarang aku bias melihat sosok yang mirip Hei…
“Ah!! Tapi apa alasan mu bisa mencintaiku hah?!“ Aku mulai kacau.
“Kau beda dari cewek-cewek lain. Ada kesan tersendiri dari diri mu saat pertama kali melihatmu.“ Ichi tersenyum ke arah ku. Hal itu sungguh sukses membuatku salting.
“Haah?! Kesan apa saja itu?! Kau cuman menggodaku saja kan?!“ Aku menunjuk-nunjuk Ichi.
“Hmmm… Banyak, selama 2 tahun ini, aku bisa mengetahui sifatmu. Kamu yang sebenarnya sangat ingin diperhatikan, kamu yang selalu ceria di setiap saat, kamu yang…“
“Aaaah!! Rasanya ingin mati JIKA aku juga mencintaimu!! Sangat menggelikan!“ Aku membentak Ichi. Setelah aku mengatakan kalimat itu, ekspresi senyuman di wajah Ichi berubah menjadi tatapan penuh amarah dan dingin. Dia jalan mendekatiku, lalu..
PLAAK!
Ichi menamparku.
Tak bisa kubayangkan ini pertama kalinya ia menamparku. Sangat tak terduga, sekilas ku melihatnya mengeluarkan setitik air mata. Aku melebarkan mataku tak percaya. Kenapa semua begitu terasa menyakitkan jika di dekatnya? Mengapa setiap kali aku dengannya, selalu saja ada yang berkecamuk di hati…. EH??
Kusadari Ichi telah menempelkan bibirnya ke bibirku. Ichi menciumku?!!! Detak jantungku terasa berhenti. Bukankah dilarang oleh sekolah untuk berciuman saat menempuh masa SMA?!
Setelah beberapa detik, Ichi melepas ciumannya dariku. Aku terbelalak, wajahku merah padam, tangan dan kakiku gemetaran, dan jantungku berdetak cepat. Ciuman pertamaku…dengan Ichi?! Ichi masih menampakkan wajah amarah itu.
“Berapa lama lagi aku menunggu sampai aku bisa membuatmu suka padaku?!!“ kini Ichi berseru di depanku persis dengan kedua tangan menumpu di bahuku. Aku hanya bisa memandangnya dengan mata bersalah. “Apakah kau tak pernah merasakan selama 2 tahun ini aku berusaha mendekatimu?! Aku berusaha untuk nenelponmu dan mengirim sms pada mu, karena aku kangen padamu!!!“ bentak Ichi lagi sambil menunduk.
Aku hanya bisa diam. Diam. Diam memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan pada Ichi. Aku tak ingin dia kecewa ataupun marah. Aku tak bisa membuat nya senang ataupun bahagia, karena aku tak tau apa perasaanku padanya. Aku benci padanya? Tidak. Aku cinta padanya? Mungkin tidak. Terus…
“Emm… Aku tak tau harus bagaima…“
“Hoi! Dari tadi ngomong yang ga perlu.. Keburu sore niih!“. Itu.. suara Arlito. Dari balik pohon? Jadi, selama ini Arlito denger semua percakapan ku dengan Ichi?! Tidak.. Bagaimana ini, berarti dia tau kalau aku suka dia. “Hey Rita.. Aku juga baru tau… Kalau ternyata kau suka padaku.. Hahahaha! Maaf aku tak menyadarinya….”
“Kau mengetahuinya!! TIDAAK!” Aku tambah panik dan berteriak keras-keras, “Jangan bilang Elco juga mendengar semua percakapan ku dengan Ichi..?“ aku menyeringai kecil.
“Tidak. Elco pergi ke minimarket. Jadi aku saja yang mendengar semuanya. Tapi, sejujurnya, aku juga menyukaimu..“Arlito mengatakan itu dengan tegas, sama saat Ichi mengatakan saat dia juga mencintaiku. Hatiku sempat senang.. “cuman…“
“cuman??“
“Ya… Beda kan antara suka dan cinta?“ Arlito makin membuatku bingung.
“Maksudmu… apa?” Aku bertanya-tanya. Kulihat Arlito menghela nafas dan Ichi yang hanya menumpu dahi. “Begitu saja tidak tau..“ kata Ichi menyindirku.
“Kamu memang bodoh, sesuai dengan yang dikatakan Ichi tadi. Nih ya, kata menyukai dan mencintai itu beda… Aku menyukai mu dan Ichi mencin..“ Kata-kata Arlito terpotong. Kulihat Ichi menarik kerah baju Arlito dengan ekspresi marah.
“Jadi selama ini kau juga tertarik dengannya hah?!!“ Ichi membentak Arlito.
“Sejujurnya iya, cuman hey! Dengarkan aku dulu!“ Arlito berusaha melepaskan cengkeraman tangan Ichi di kerah bajunya. Ichi pun perlahan melepas cengkeramannya. “Nih ya, aku jelaskan. Menyukai dan mencintai itu beda. Menyukai adalah tahap pertama saat manusia tertarik pada manusia lainnya. Perasaan mereka belum tertanam kuat pada hati mereka, jadi mereka masih menilai pada kebiasaan dan wujud mereka. Jadi istilahnya, mereka masih nge-fans gitu lah… Mengerti??” Arlito menjelaskan kata rumit itu dengan penjelasan yang gampang aku mengerti..
“Ya, aku mengerti sekarang. Dan sekarang apa arti Mencintai? Bukannya sama saja?“ Aku menanggapi hal ini dengan serius, padahal aku benci jika seseorang sedang serius termasuk diriku sendiri.
“Kalau cinta huh… Begini, cinta itu tahap akhir dari perasaan menyukai. Mencintai itu sudah termasuk kategori menyayangi. Yah, berarti mencintai itu perasaan kasih yang mendalam pada diri manusia pada tiap orang. Perasaan itu sudah tertanam dalam-dalam pada diri kita terhadap orang yang kita cintai dan membuat orang yang mencintai itu kadang merasa sangat ingin untuk terus dekat dengan kita… Yah, mencintai itu juga sama dengan menyayangi, cuman mencintai lebih menjurus ke antara 2 pribadi…“. Arlito menjelaskan dengan panjang lebar. Hal ini makin membuatku pusing.
Aku tak mengerti semuanya sih, cuman aku bisa mengerti maksud dari perbedaan kata aneh itu. Berarti Ichi…
“Yah!! Berarti aku sekedar nge-fans sama kamu! Hahahaha! Jadi aku tak pantas mendapatkan kamu, jadi, jadilah milik Ichi. Aku tak apa.“ Arlito mendorongku ke pelukan Ichi. Refleks aku langsung menarik badanku sendiri supaya tidak jatuh di badan Ichi. Perasaanku sedang kacau sekarang. Mengapa aku tak langsung berteriak ‘aku mencintaimu,arlito!‘ atau aku langsung memeluk Arlito tanda aku ingin bersamanya?! Ini sungguh aneh. Berdiri di tengah mereka berdua sangatlah sulit untuk menjaga perasaan kacau yang meluap-luap. Aku harus bagaimana?!!
“Sekarang kau pilih siapa?“ kini giliran Ichi yang membuatku bingung. Sungguh, aku tak tau harus bagaimana. Perasaanku berkecamuk, sangat sakit untuk dirasakan, rasanya sangat sakit untuk bernafas. Sudah jelas aku….pada Arlito.. Tidak, aku tak tau perasaan apa yang ada pada Arlito. Apakah aku hanya menyukainya??! Tidak, aku… aku…
“Sekarang aku bertanya lagi padamu. Saat aku atau Ichi menelpon mu, mana dari kami berdua yang membuatmu gugup?“ Lagi-lagi Arlito memberiku pertanyaan sulit. Tapi, setelah aku ingat-ingat, kebanyakan aku gugup saat Ichi menelponku..
“I-Ichi..“ jawabku pelan. Arlito menangguk pelan, sedangkan aku bingung mengapa aku diberi pertanyaan itu.
“Sekarang, siapa yang sering membuat perasaanmu kacau saat aku atau Ichi di dekatmu?“
“Ichi.. Tap..“ bibirku ditekan oleh jari telunjuk Arlito. Arlito menggeleng-geleng.
“Tidak ada kata tapi-tapian. Kalau itu jawabanmu, jawablah dengan percaya diri sama saat kamu menuliskan jawaban pada kertas ulangan. Sekarang pertanyaan terakhir, mana yang membuatmu cemburu saat melihat aku atau Ichi sedang bersama cewek lain?”. Kali ini pertanyaan yang gampang untuk dijawab.. Hahaha!
“Arlito” jawabku pelan, tapi rasanya ada yang salah saat aku menyebutkan namanya.. Apa yang salah ya?
“Kamu yakin dengan jawaban itu? Kalau yakin, berikan buktimu” Arlito kembali meyakinkanku. Aku pun mulai mengingat-ingat kejadian-kejadian yang pernah membuat aku cemburu… hmm..
“Oya, saat Arlito merencanakan pergi bersama kakak kelas untuk membeli peralatan games akhir tahun. Kalau tidak salah..” aku menjawab antara yakin dan tidak yakin. Tapi keliatannya…
“Bukannya itu aku? Kan aku seksi Acara Perlengkapan juga di OSIS?” Ichi menunjuk mukanya dengan ekspresi polos. Lha?! Itu Ichi ya?! Tidak!
“Berarti itu kamu milih Ichi, bego kau! Sana pergi ke Ichi!“ Arlito mendorong punggung ku sekuat tenaga ke arah Ichi berdiri. Aku kehilangan keseimbangan, sehingga jatuh ke dada Ichi. Aku langsung menarik tubuh ku sendiri hingga aku bisa berdiri dan memandang mata Ichi tajam-tajam.
“Enggaak! Kalau kamu mencintaiku, kenapa kau selalu bersikap mengesalkan padaku?! Aku gak ngerti… Kalau orang mencintai seseorang, bukannya seharusnya orang itu berusaha mendekati orang yang dicintainya itu?!“ Aku membentak Ichi dengan aliran air mata di pipiku, aku tak bisa menahan emosiku selama ini. Kalau dia cinta padaku, kenapa dia…
“Aku mendekatimu dengan cara berbeda. Jika aku bersikap baik-baik dalam mendekatimu, pada akhirnya sangat tidak seru karena perasaan kita langsung bisa ditebak. Hahaha!“ Ichi tertawa sendiri. Hal ini membuatku tambah sebal padanya, “Tapi, aku sebenarnya sudah memberimu petunjuk selama ini lewat perdebatan kita berdua kalau aku cinta padamu.. haah.. Pemikiran tentang cinta mu terlalu dangkal…“ Ichi menepuk-nepuk kepala ku. Kurasakan sesuatu yang hangat saat Ichi menepuk kepala ku, rasanya tepukan itu dilakukannya penuh perasaan, bukan asal menepuk… Air mataku tetap mengalir.
“Cara Ichi bener juga sih… Hahahaha!“ Arlito juga ikut-ikutan tertawa. Ichi dan Arlito tertawa bareng. Senyum di bibir mereka membuat hati ku menjadi terasa lega. Entah lega yang seperti apa… Sangat membingungkan.. Tapi,saat kulihat di antara senyuman kedua orang itu, kurasakan ada yang salah… Senyuman Ichi terasa perih untuk dirasakan.
“Aku cukup bingung dengan senyuman kalian berdua, tapi saat kurasakan dari perasaanku, Ichi..“Aku menoleh ke arah Ichi. Ichi pun tersenyum lagi, lagi-lagi kurasakan ada sesuatu yang membuatku merasa aneh.. Aku pun langsung memeluk Ichi, “Jangan tersenyum kalau kau tidak ingin tersenyum saat ini!! Aku merasakan ada yang aneh saat kau tersenyum.. Rasanya sangat perih…“ Air mata ku yang tadi sudah mengering, kembali mengalir, sekarang lebih deras. Aku meremas bajunya erat-erat.
“Aku tak terpaksa untuk tersenyu..“
CUP….
Aku memberanikan diri untuk menciumnya. Entah apa ini keinginanku atau badanku sendiri yang menyuruhku untuk melakukannya. Aku merasakan lagi bibirnya di bibirku. Aku tak pernah menyangka hubunganku dengan Ichi menjadi se-ajaib ini. Sangat diluar dugaanku. Aku pun perlahan melepas bibirku di bibirnya.. Aku melihat kelopak mata Ichi melebar, wajahnya yang dihiasai oleh semburat merah di bawah matanya, dan tangannya yang mendingin saat ku genggam.
“Kurasa kau lebih pantas menjadi miliknya… Aku kan hanya menyukai mu.“ Arlito memalingkan kepalanya. Aku memandang Arlito yang menunduk melihat makam Ayah Ichi.
“Terima kasih… Kalau tanpa bantuanmu, Rita tidak jadi milikku.. hehehe..“ Ichi nyengir ke arah Arlito sedangkan Arlito membalasnya dengan senyuman.
“Siapa bilang aku sudah menjadi milikmu?! Ekh…“ Aku dengan tidak sadar mmengatakannya. Ichi kembali memandang tajam mata ku, “Jadi, yang tadi menciumku siapa ya? Mungkin kakak kelas itu kali ya?“ Ichi membalas perkataanku tadi.
“ Iya ya? Siapa ya?“jawabku bercanda sambil tertawa.
“Yasudah, berarti aku jadian saja ama kakak kelas itu..!” Ichi santai melewatiku. Aku mulai cemburu saat Ichi mengatakan itu. Namun aku diam saja, membiarkan dia sok mengerjaiku lagi.
“Heii! Kau tidak cemburu?? Benar-benar nih, besok aku bakal menembaknya!“ Ichi sedikit mengambek. Aku hanya tertawa kecil. Keadaanku saat aku bersama Ichi sekarang beda sekali saat aku bermusuhan dengannya.
“Terserah! Tembak saja! Lagian nanti kamu yang rugi, aku tidak. Aku bisa bersama Arlito.” Aku menggoda Ichi lagi, Arlito yang mendengar perkataanku itu langsung menjitak kepala ku pelan.
“Jadi ceritanya kamu gak sayang ma aku?!” Ichi mendekat.
“Enggak.“ Jawabku sambil tersenyum nakal. Hahahaha! Ichi sekarang benar-benar dekat dimana aku berdiri, kukira aku bakal dicium lagi olehnya, namun ternyata ia mengambil tasku di tanganku. Sial! Ichi membawanya lari-lari, aku otomatis mengejar-ngejarnya. Berlari-lari dibawah pohon rimbun seperti ini sangat menyegarkan dan lega rasanya. Saat aku tak melihat Ichi dengan tasku yang dibawanya, aku berteriak-teriak memanggil namanya. Tiba-tiba…
“Kena kamu! Hahahaha!“ Ichi memelukku erat dari belakang. Aku berusaha lepas dari pelukannya dan mengambil tasku yang diambilnya. Saat sudah mendapatkan tasku dengan mengandalkan ilmu bela diri ku, kami berempat pulang ke rumah masing-masing. Saat dijalan, tanganku digandeng oleh Ichi. Arlito dan Elco memimpin di depan…
Tapi kesialan melandaku….
ICHI‘s POV
Rasanya senang mendapatkan orang yang kusayangi selama ini. Tak menyangka pengungkapan cinta ku berlangsung hebat di depan makam ayahku, apalagi aku sempat melakukan hal tak sopan pada Arlito di depan makam ayah… Hahaha.. Mungkin ayah marah di atas sana… Tapi mungkin juga Ayah juga senang karena aku sudah memiliki sesorang yang kusayangi.
“Rita, boleh gandengan?“ aku bertanya pelan supaya Arlito dan Elco tak mendengarnya. Rita hanya diam tapi diwajahnya menampakkan senyuman. Tanpa banyak Tanya lagi, aku langsung menggandeng tangannya. Rita sempat kaget saat aku menggenggam tangannya, kelihatannya dia tidak dengar pertanyaanku tadi
CIIIIT!! BRAAAAAAK!!
Apa yang kulihat sekarang sangat tidak mungkin… Aku mengkucek-kucek mataku, namun pemandangan mengerikan itu tetap terlihat nyata dimataku. Kulihat Arlito dan Elco sangat terkejut.
Rita terkapar dengan kepala berdarah di depan ku karena sebuah mobil menabraknya….
Mobil itu meninggalkan kami dengan langsungnya. Sungguh aku tak percaya dengan kejadian ini. Arlito meraba tangan Rita dan didengarkannya denyutnadi Rita, masih berdenyut! Aku bersyukur. Dan saat kudengarkan detak jantung Rita, tidak ada yang salah. Namun darah dikepalanya tetap bercucuran. Elco sibuk menelpon ambulan dengan handphonennya. 6 menit kemudian ambulan datang dan membawa Rita, aku, Arlito, dan Elco ke rumah sakit terdekat.
-2 jam kemudian- -17.25-
“Keadaan Rita sudah membaik dan sudah siuman. Kalian bisa menjenguknya. Namun…” kalimat Dokter belum selesai.
“Namun?! Lanjutkan kalimat Dokter!“ seru ku panik.
“Kalian periksa sendiri. Kalau nanti ada problem yang muncul lagi, panggil saya.“ Dokter itu meninggalkan kami. Tanpa ragu, kami langsung masuk ke kamar Rita. Kulihat Rita sedang memandang jendela di sebelahnya. Aku sudah tidak panik lagi, karena Rita terlihat tidak kenapa-kenapa.
“Rita! Senang kamu sudah baikan! Untung Elco langsung menelpon ambulan, kalau tidak, aku tidak bisa bersamamu lagi!“ Aku langsung menggenggam erat tangan Rita. Rita tersenyum.
“Terimakasih banyak sudah mengkhawatirkan ku, cuman…“
“Cuman?“ Elco mengulang kata terakhir Rita. Ia mengerutkan dahi.
“Kalian semua siapa?“
Aku tersenyum gila mendengarnya. Arlito dan Elco hanya menahan nafas. Aku memandang kalung Saphire pemberian Ayah di tanganku itu yang manjur membawa kesehatan dan kemujuran. Sekejap ruangan menjadi sunyi senyap. Kupandang wajah Rita, senyuman khasnya terpampang sama seperti biasa namun matanya mengisyaratkan tanda tanya atas siapa kami bertiga. Tanganku tetap menggenggam tangan kirinya.
“Rita!! Ini aku, Ichi!! Kau ingat tentang Ichi?!!“ aku berseru di depannya. Senyuman khas Rita tetap terpampang di wajah lembutnya. Matanya menatapku lurus, namun tetap penuh dengan tanda tanya.
“Ichi… Ichi… Aku…tak pernah kenal Ichi…“ Senyumannya hilang, wajahku makin terasa panas. Baru berapa jam aku dan Rita menjalin hubungan baru, sudah diputuskan lagi!! Aku tak percaya hal ini… “Tapi..Aku pernah mendengar namanya… Dan seingatku…. aku… pernah dicium seseorang…. namun aku tak tau siapa orang.. itu..“
Elco dan Arlito mengangguk senang, namun aku masih belum senang. Aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak mau semua usaha ku selama ini sia-sia karena mobil berengsek itu yang menabrak Rita. Elco pun yang melihatku stress, menepuk bahu ku dan membisikan 2 kalimat yang membuatku menjadi lebih optimis. ‘Cium dia‘ katanya. Mungkin benar juga, katanya Rita, ia masih ingat kalau dia pernah dicium seseorang, dan orang itu adalah aku. Mungkin dia masih ingat rasanya saat aku menciumnya.. Elco dan Arlito meninggalkan ruangan supaya tidak mengganggu pikiran Rita.
Aku pun mendekatkan wajahku ke wajahnya. Rita sempat mendorong ku menjauh, cuman saat kucoba lagi, dia hanya menurut dan diam. Akhirnya bibirku bersentuhan lagi dengannya. Aku melepaskannya perlahan, Rita memandangku kaget dan wajahnya merah padam. Aku tersenyum lembut dan menggenggam tangannya kembali.
“Kenapa kau menciumku?” Tanya Rita polos.
“Karena aku pacarmu. Sebelum kau hilang ingatan aku dan kamu jadian. Kau tahu?“ aku mempererat genggamanku.
“Apa?“ tanya Rita dengan senyuman polosnya.
“Kalau kau juga pernah menciumku.” Aku melebarkan senyumku. Ekspresi Rita sangatlah terkejut dan semburat merah muncul di pipinya dan ia menunduk-nunduk malu.
“Aku tak pernah ingat aku pernah melakukannya padamu. Cuman, aku senang karena aku telah berkenalan dengan mu.“ Rita tersenyum senang. Perasaanku yang tadi panik, menjadi lebih baik, “Hei, kamu kenalan dari cowok berkacamata itu tadi?“ Rita kembali padaku.
“Kenal. Dulu aku, dan dua cowok berserta kamu adalah teman baik. Memang kenapa dengan yang berkacamata?“ perasaanku mulai tidak enak.. Kulihat wajah nya memerah malu. Oh tidak… Jangan-jangan, sekarang ia mulai menyukai…….Elco?!!
TIDAAAAAAAAAK!!!!!!!!!!!!!!!!
==================================================================
Hah-hah-hah-hah-hah…..
Selese juga Chappie 2-nya… Gimana dengan chappie 2?? Lebih seru ato lebih jelek??
Gak nyangka nasib Rita dan hubungan nya dengan Ichi jadi seperti ini… Ini semua gara-gara Si Ricuy Curut itu!! Pergi kaw!! *ngejar-ngejar Ricuy pake sapu*
Yah… yang penting ada pembaca yang suka…
